Seekor hiu paus (Rhincodon typus) ditemukan terdampar di Pantai Lowolabo, Desa Lowolabo, Kecamatan Paga, Kabupaten Sikka, Nusa Tenggara Timur (NTT). Hius paus itu ditemukan pada Rabu (28/10/2026).
Dalam sejumlah video yang beredar, warga berbondong-bondong mengikat ikan berukuran besar itu di bagian leher dan ekornya menggunakan tali nilon warna biru. Mereka kemudian menariknya di atas pasar. Menurut informasi, warga Desa Lowolabo memotong ikan tersebut lalu dagingnya dibagi-dibagi untuk dikonsumsi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Penjabat Kepala Desa Lowolabo, Yoseph Nanggonis Da Lopes, membenarkan hiu paus itu terdampar dan warga memotongnya untuk dikonsumsi. Namun, ia memastikan ikan tersebut sudah dalam kondisi mati.
"Ya kejadian itu benar dua hari lalu pada Rabu (28/10/2026) pagi, tetapi sudah mati," ujar pria yang akrab disapa Gonis itu saat dihubungi, Jumat (30/10/2026).
Gonis menjelaskan aksi warganya untuk menyembelih ikan tersebut merupakan reaksi spontanitas. Sebab, warga belum memahami secara jelas, ikan tersebut masuk dalam satwa yang dilindungi.
"Warga memang tidak tahu atau mengerti bahwa ikan jenis itu masuk dalam kategori jenis hewan langka yang dilindungi undang-undang (UU)," jelas Gonis.
Selain itu, Gonisi berujar, warga juga belum teredukasi dengan baik, terkait peraturan perundang-undangan tentang satwa langka yang dilindungi. Sehingga warga langsung menyembelih untuk dikonsumsi setelah ditemukan dalam kondisi mati.
"Sehingga masyarakat ada yang tidak tahu, mereka tarik menggunakan tali nilon ke pinggir pantai baru potong dan bagi-bagi untuk dikonsumsi," terang Gonis.
Menurut Gonis, setelah kejadian tersebut, petugas dari Pemerintah Daerah (Pemda) Sikka, langsung turun ke lokasi untuk mengecek hiu paus tersebut.
"Dari Pemda menyadari bahwa masyarakat kurang mendapat edukasi dengan baik terkait satwa yang dilindungi itu," beber Gonis.
Di lain sisi, Gonis mengaku kemunculan hiu paus di Pantai Lowolabo sudah sering terjadi dan berulang kali. Hal itu membuat masyarakat menjadikannya sebagai perburuan untuk mendapatkan dagingnya.
"Sudah sering terdampar sehingga masyarakat dengan tradisi seperti itu, mereka lakukan penyembelihan karena memang mereka belum teredukasi. Jadi dagingnya sudah habis terbagi," pungkas Gonis.

















































