Asosiasi Transportasi Udara Internasional (IATA) mendorong maskapai penerbangan memanfaatkan kecerdasan buatan (AI), pembayaran digital, dan identitas digital untuk meningkatkan layanan kepada penumpang.
Hal itu disampaikan Pelaksana Tugas Direktur Jenderal sekaligus Direktur Keuangan IATA, Sandrine Le Borgne, saat membuka World Financial Symposium dan World Passenger Symposium di Makau.
Menurutnya, maskapai perlu mengikuti perkembangan teknologi tanpa kehilangan kendali atas data dan hubungan bisnis dengan pelanggan. IATA mencatat, sejumlah maskapai mulai menggunakan sistem penjualan tiket berbasis Offers and Orders.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Mengutip The Star, Jumat (30/10/2026) sebanyak tujuh maskapai telah menerapkan atau sedang mengembangkan sistem tersebut. Dan lebih dari 20 maskapai lainnya diperkirakan akan menyusul mulai 2027.
Pengembangan sistem itu juga menarik investasi dari penyedia teknologi. Nilainya tercatat lebih dari USD 1,7 miliar (Rp 28 triliun).
"Offers and Orders adalah fondasinya, sedangkan AI menjadi pendorongnya. Keduanya perlu dikembangkan bersama karena AI semakin mengubah cara wisatawan mencari, membeli, dan mendapatkan layanan perjalanan," ucap Le Borgne.
Selain teknologi penjualan tiket, IATA menyoroti biaya transaksi pembayaran yang harus ditanggung maskapai. Industri penerbangan menghabiskan lebih dari USD 24,5 miliar (Rp 443 triliun) setiap tahun untuk memproses pembayaran.
Karena itu, maskapai diminta mempertimbangkan biaya, arus kas, dan risiko keuangan sebelum menggunakan metode pembayaran baru. Sistem pencocokan transaksi, penyelesaian pembayaran, dan pencatatan pendapatan juga perlu disiapkan sejak awal.
Baca juga: Teknologi AI Bakal Akhiri Delay Pesawat? |
IATA turut mendorong penggunaan teknologi biometrik untuk mempercepat proses penumpang di bandara. Namun, penerapannya dinilai belum maksimal karena sistem yang digunakan masih berbeda-beda di setiap negara dan bandara.
Untuk mendukung perjalanan digital, IATA meminta pemerintah setempat untuk menerbitkan dan menerima dokumen perjalanan digital sesuai standar Organisasi Penerbangan Sipil Internasional (ICAO). IATA menyebut lebih dari delapan dari 10 penumpang tertarik menggunakan paspor digital saat check-in.


























































