Sebuah studi terbaru yang dilakukan oleh peneliti dari University of Queensland menyatakan cangkang siput bisa memetakan peristiwa cuaca historis. Dengan kata lain, cangkang siput bisa memberikan informasi tentang berbagai kondisi cuaca di masa lalu.
Profesor James Shulmeister menyebutkan pola pertumbuhan cangkang siput terkait dengan peristiwa cuaca ekstrem. Untuk berburu siput, para peneliti menjelajahi Taman Nasional Danau Coalstoun di Wide Bay, Queensland, Australia.
Mereka mengambil sampel kecil dari cangkang siput yang sudah mati. Meski kecil, sampel ini bisa memberikan informasi tentang usia siput, kapan ia hidup, dan kondisi cuaca selama masa hidupnya melalui analisis isotop oksigen dan karbon yang stabil.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sumber Data Cuaca Masa Lalu
Shulmeister menjabarkan memahami tingkat curah hujan hingga peristiwa ekstrem di masa lalu bisa dibilang cukup sulit. Hal ini dikarenakan catatan curah hujan resmi di Australia baru dimulai pada 1900.
"Siput memberi kita kemungkinan untuk merekonstruksi peristiwa siklon di masa lalu. Ini cara yang sangat keren untuk benar-benar memahami sejarah hujan di wilayah ini," paparnya dikutip dari laman ABC Science.
"Jika kita kembali dan mengambil sampel inti, kita bisa mendapatkan cangkang siput yang lebih tua dan dapat melihat periode waktu di masa lalu serta melihat seperti apa peristiwa curah hujan pada saat itu," imbuh Shulmeister.
Studi yang dilakukan tim peneliti bersama Shulmeister terbit di jurnal The Holocene. Ia optimis akan menemukan cangkang siput lain untuk melanjutkan penelitian, contohnya sampel dari Coalstoun Lakes.
"Kami memiliki beberapa sampel inti dari sana yang belum dianalisis, tetapi harapan saya adalah kami akan dapat menemukan beberapa material cangkang di dalam sampel inti tersebut," kata Shulmeister lagi.
Ahli Siput Angkat Bicara
Peneliti kehormatan dari Museum Queensland, John Stanisic yang terkenal sebagai ahli siput beri pendapat. Ia mengatakan Australia memiliki sekitar 2.500 spesies siput darat dan yang terbesar ada di Queensland.
Meski tidak terlibat dalam studi, Stanisic berharap penelitian ini dapat memicu minat yang lebih besar terhadap siput darat. Baginya, siput bukanlah hewan yang bodoh.
"Jika berbicara tentang spesies asli kita, mereka dapat memberi tahu kita banyak hal," jelas Stanisic.
Siput merupakan kelompok spesies invertebrata yang sangat penting bagi ekosistem. Berbagai spesies siput sudah terawetkan di museum seluruh dunia sejak 1850-an.
"Orang-orang bisa mempelajarinya, tetapi saya tidak yakin apa yang akan diungkapkan oleh studi tersebut," jelasnya.
Terkait hal itu, Shulmeister mengungkap studi ini hadir untuk memberikan catatan yang lebih lengkap terkait perubahan curah hujan ekstrem di masa lalu. Terlebih siput menjadi spesies yang dekat dengan ekosistem.
"Harapan saya, ini akan berhasil untuk sebagian besar siput, karena siput-siput ini memakan tumbuhan-tumbuhan dan tampaknya siput-siput tersebut menunggu terjadinya peristiwa hujan lebat," ungkap Shulmeister lagi.






























































