Menyantap comfort food seperti cokelat dan pizza bisa bikin bahagia saat stres melanda. Ahli gizi menjelaskan hubungan makanan, otak, dan suasana hati.
Makanan tak hanya menjadi sumber energi, tetapi juga punya kaitan erat dengan emosi. Tak jarang, makanan tertentu dicari saat seseorang merasa stres atau lelah.
Cokelat, pizza, hingga masakan rumahan kerap menjadi pilihan untuk memperbaiki suasana hati. Sensasi nikmat dan kenangan di baliknya bisa menghadirkan rasa nyaman.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Fenomena ini dikenal dengan istilah comfort food. Namun, apa yang membuat makanan tertentu bisa memicu rasa senang dan nyaman?
Dikutip dari Firstpost (27/5) berikut faktanya.
1. Memicu Sistem Penghargaan di Otak
Ilustrasi comfort food. Foto: Getty Images/Peggy Cheung |
Makanan tinggi gula, lemak, dan karbohidrat dapat mengaktifkan sistem penghargaan di otak. Proses ini berkaitan dengan pelepasan dopamin, neurotransmiter yang berperan dalam rasa senang dan penghargaan.
Charu Dua, Chief Clinical Nutritionist di Amrita Hospital, Faridabad, India menjelaskan bahwa respons tersebut bisa membuat seseorang merasa lebih tenang setelah menyantap makanan favoritnya.
Efek ini turut menjelaskan mengapa makanan tertentu sering dicari ketika seseorang sedang mengalami tekanan emosional. Makanan kaya karbohidrat juga dapat memengaruhi mekanisme tubuh yang berkaitan dengan serotonin.
Zat kimia ini berperan dalam pengaturan suasana hati, meski efek makanan terhadap kebahagiaan tidak selalu sama pada setiap orang.
2. Berkaitan dengan Kenangan dan Rasa Aman
Rasa nyaman dari makanan tidak hanya berasal dari reaksi kimia dalam tubuh. Kenangan masa kecil, perhatian keluarga, dan pengalaman menyenangkan juga dapat membuat makanan tertentu terasa istimewa.
"Comfort food tidak hanya berkaitan dengan rasa atau kebiasaan, tetapi juga respons otak terhadap stres, emosi, memori, dan penghargaan," jelas Charu Dua.
Misalnya, semangkuk bubur hangat saat sakit atau masakan rumahan setelah hari yang melelahkan dapat menghadirkan rasa akrab. Asosiasi emosional tersebut bisa membantu seseorang merasa lebih aman dan nyaman.
3. Hubungan Usus dan Otak Turut Berperan
Ilustrasi dessert. Foto: Instagram |
Usus dan otak saling berkomunikasi melalui mekanisme yang dikenal sebagai gut-brain axis. Hubungan ini memungkinkan kondisi pencernaan berkaitan dengan sejumlah proses yang memengaruhi suasana hati.
Sekitar 90% serotonin dalam tubuh berada di saluran pencernaan, tetapi bukan berarti makanan yang dikonsumsi langsung meningkatkan serotonin di otak.
Serotonin di usus dan otak memiliki fungsi berbeda karena zat ini tidak dapat melewati sawar darah-otak secara langsung.
Makanan fermentasi seperti yoghurt, dadih, dan buttermilk dapat mendukung kesehatan pencernaan.
Namun, pengaruhnya terhadap suasana hati masih terus diteliti dan tidak bisa dianggap sebagai solusi tunggal untuk mengatasi stres.
4. Pilih Comfort Food yang Lebih Bernutrisi
Tidak semua makanan yang memberikan rasa nyaman memiliki efek yang sama bagi tubuh. Makanan ultra-proses seperti keripik kemasan, minuman manis, dan hidangan tinggi gula dapat memberikan kepuasan sesaat, tetapi jika dikonsumsi berlebihan berisiko mengganggu kesehatan.
Charu Dua mengingatkan bahwa efek menyenangkan dari makanan ultra-proses cenderung bersifat sementara. Pola makan yang kurang seimbang juga dapat berkaitan dengan kelelahan dan kualitas tidur yang buruk.
Karena itu, comfort food tetap bisa dinikmati dengan pilihan yang lebih bernutrisi. Beberapa contohnya adalah sup hangat, nasi dengan lauk bergizi, kacang-kacangan, yoghurt, serta cokelat hitam dalam porsi secukupnya.
Simak Video "Video Catatan dari Ahli Gizi soal Temuan Sayur Basi di Makan Bergizi Gratis"
[Gambas:Video 20detik](raf/adr)




























































KIRIM RESEP
KIRIM PENGALAMAN