Hujan mulai menunjukkan dampak terhadap penurunan titik panas atau hotspot di Kalimantan Tengah (Kalteng). Dalam empat hari, jumlah hotspot yang terdeteksi satelit anjlok dari 8.054 titik pada 24 Oktober menjadi hanya 11 titik pada 27 Oktober 2026.
Berdasarkan data Sistem Pemantauan Karhutla (SiPongi), total akumulasi deteksi dari tiga satelit, yakni NASA-MODIS, NASA-NOAA20, dan NASA-SNPP, mencapai 9.338 titik selama periode 24-27 Oktober 2026. Penurunan tajam terjadi bersamaan dengan hujan yang mengguyur sejumlah wilayah di Kalteng.
"Pada 24 Oktober, tercatat 8.054 hotspot. Sehari kemudian jumlahnya turun menjadi 832 titik, lalu kembali berkurang menjadi 441 titik pada 26 Oktober. Pada 27 Oktober, deteksi hanya menyisakan 11 titik yang tersebar di Kabupaten Lamandau sebanyak sembilan titik, serta masing-masing satu titik di Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Timur," kata Prakirawan Stasiun Meteorologi Kelas I Tjilik Riwut Palangka Raya, Neng Arini, Rabu (28/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kabupaten Pulang Pisau menjadi wilayah dengan akumulasi hotspot terbanyak selama empat hari, yakni 2.189 titik. Berikutnya Kabupaten Kapuas dengan 1.809 titik dan Seruyan sebanyak 1.555 titik. Ketiga daerah tersebut menyumbang sekitar 59 persen dari total deteksi hotspot di Kalteng.
"Wilayah lain yang juga mencatat angka cukup tinggi meliputi Kotawaringin Barat sebanyak 1.289 titik, Katingan 924 titik, Kotawaringin Timur 737 titik, serta Kota Palangka Raya sebanyak 325 titik," katanya.
Meski jumlah hotspot merosot tajam, kondisi tersebut belum menjadi jaminan bahwa ancaman kebakaran hutan dan lahan (karhutla) telah berakhir. Hotspot merupakan indikasi titik panas yang terdeteksi satelit, bukan konfirmasi langsung terjadinya kebakaran di lapangan. Satu kejadian panas juga berpotensi terdeteksi lebih dari sekali oleh satelit berbeda.
Ia mengatakan konsentrasi partikel polutan PM2.5 mulai menurun sejak Senin, 26 Oktober 2026. Namun, saat itu kualitas udara masih berada dalam rentang sangat tidak sehat hingga berbahaya.
"Kalau dilihat dari PM2.5 Palangka Raya, memang terlihat ada penurunan konsentrasi PM2.5 dari hari kemarin jika dibandingkan dengan hari-hari sebelumnya. Namun, untuk tanggal 26 meski ada penurunan konsentrasi PM2.5, masih dalam rentang sanga tidak sehat hingga berbahaya, dengan sebagian besar masih dalam kategori berbahaya," ujarnya.
"Pada Selasa dini hari hingga pukul 06.00 WIB, kualitas udara Palangka Raya masih berada dalam kategori berbahaya. Perbaikan mulai terlihat pada pukul 07.00 WIB, ketika kondisinya berangsur turun ke kategori tidak sehat," ujarnya.
Data pemantauan menunjukkan konsentrasi PM2.5 sekitar 70 mikrogram per meter kubik pada pukul 08.00 WIB. Angka tersebut meningkat menjadi sekitar 90 mikrogram per meter kubik pada pukul 09.00 WIB, sebelum turun kembali menjadi 80,3 mikrogram per meter kubik pada pukul 10.00 WIB.
Arini menjelaskan, hujan dengan intensitas cukup deras dan berlangsung lama sejak dini hari hingga pagi membantu memperbaiki kualitas udara. Meski demikian, kondisi tersebut masih dapat berubah apabila kebakaran kembali terjadi dan menghasilkan asap.
"Kalau untuk saat ini, kualitas udara membaik karena hujan cukup deras dan lama pada dini hari hingga pagi tadi. Namun, untuk ke depannya kembali lagi ke kondisi di lapangan. Jika masih terjadi kebakaran, bisa jadi kualitas udara kembali memburuk," katanya.
BMKG memprakirakan cuaca di sebagian besar wilayah Kalteng berkisar cerah berawan hingga berawan. Sejumlah daerah masih berpotensi mengalami udara kabur akibat kabut asap, disertai peluang hujan ringan hingga hujan sedang dan lebat di beberapa wilayah.
"Pada periode 27-29 Oktober 2026, potensi hujan sedang hingga lebat yang dapat disertai petir dan angin kencang diperkirakan terjadi di Sukamara, Lamandau, Kotawaringin Barat, Seruyan, Kotawaringin Timur, Katingan, Gunung Mas, dan Murung Raya," katanya.
Sementara pada 30 Oktober hingga 2 November 2026, potensi cuaca tersebut diperkirakan meliputi Seruyan bagian utara, Kotawaringin Timur, Katingan, Gunung Mas, Murung Raya, Barito Utara, Barito Selatan, Kapuas, Pulang Pisau, dan Kota Palangka Raya.
"BMKG mengimbau masyarakat tetap memantau perkembangan cuaca dan kualitas udara. Penurunan hotspot dan membaiknya konsentrasi PM2.5 menjadi perkembangan positif, tetapi kewaspadaan tetap diperlukan karena potensi karhutla dan pencemaran udara masih ada," pungkasnya.




























































