Tawuran di Jalan Kandea, Kecamatan Bontoala, Kota Makassar, Sulawesi Selatan (Sulsel), tak kunjung mereda. Konflik antara dua kelompok pemuda turut membuat perang kelompok terus berulang dan berlangsung selama 30 tahun.
Jalan Kandea kerap menjadi pusat perang kelompok apalagi lokasinya melintasi dua wilayah kecamatan yang saling berbatasan, yakni Bontoala dan Tallo. Tawuran sering memanas karena dua kelompok dari dua kecamatan itu saling memprovokasi.
Diketahui, tawuran sempat terjadi di tepi kanal Baraya dan pertigaan Jalan Kandea, Kecamatan Bontoala, Jumat (30/10/2026) sekitar 16.40 Wita. Kedua kelompok pemuda saling serang menggunakan busur panah, batu dan petasan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tawuran antara remaja dari Kelurahan Baraya Kecamatan Bontoala dan Kelurahan Bunga Eja Beru, Kecamatan Tallo," ungkap Kapolsek Bontoala Kompol Abdul Samad kepada wartawan, Jumat (30/10).
Perang kelompok pecah setelah salah satu kelompok membakar dan melempar petasan. Abdul Samad belum merinci kubu yang lebih dulu melancarkan serangan.
"Sekelompok pemuda yang belum diketahui asal maupun kelompoknya dengan sengaja membakar petasan kemudian mengarahkan ke arah Kelurahan Baraya dan Kelurahan Bunga Eja Beru," paparnya.
Pelemparan petasan itu memicu ketersinggungan kubu lain. Kelompok lain yang terprovokasi akhirnya melakukan serangan balasan hingga tawuran tidak terhindarkan.
Polisi yang turun ke lokasi sempat membubarkan kelompok yang bertikai pada pukul 17.00 Wita. Selang 20 menit kemudian, kedua kelompok kembali saling serang hingga aparat turun lagi melakukan patroli.
"Melakukan upaya hukum yang tegas terhadap pelaku yang melakukan provokasi maupun yang terlibat aksi saling serang," ucap Abdul Samad.
Tawuran Tak Mereda Meski Pernah Damai
Abdul Samad mengakui tawuran di Bontoala, tepatnya Jalan Kandea, merupakan konflik berkepanjangan. Salah satu kubu disebut sering menghasut kelompok lain hingga tawuran sulit terhindarkan.
"Ini sudah 30 tahun yang lalu mulainya dan sekarang saling membalas, jadi tawuran yang berulang," ungkap Abdul Samad.
Menurut dia, kelompok yang bertikai dari dua kecamatan sudah sering dipertemukan untuk dimediasi. Namun upaya perdamaian tercoreng ketika muncul aksi provokasi di lapangan.
"Kalau perdamaiannya sudah beberapa kali didamaikan. Informasi dulu pernah dipotongkan sapi tapi sampai sekarang masih melakukan lagi, yaitu perkelahian kelompok saling melempar," jelasnya.
Belakangan, tawuran dilaporkan kembali terjadi pada Minggu (1/11) sekitar pukul 01.00 Wita. Lokasinya berdekatan dengan Jalan Kandea, tepatnya berpusat di Jalan Bunga Ejaya, Kecamatan Bontoala.
Tawuran ini lagi-lagi melibatkan massa dari dua kecamatan, yakni Tallo dan Bontoala. Kedua kelompok yang bertikai masing-masing mengatasnamakan diri kelompok Poko Bakara dan Atlas.
"Tawuran melibatkan pemuda Bontoala Tua (Poko Bakara) dengan kelompok pemuda Bunga Eja Beru Lorong 4 (Atlas)," imbuh Abdul Samad dalam keterangannya, Minggu (1/11).
Tawuran bermula saat pemuda dari Bontoala Tua mengadu telah dipukul kepalanya menggunakan botol kaca. Pemukulan diduga yang dilakukan oleh pemuda Bunga Ejaya Beru.
Kelompok dari Bontoala Tua pun melakukan serangan balasan hingga akhirnya bentrok dengan kubu Bunga Eja Beru hingga tawuran pecah. Tawuran ini mengakibatkan satu pemuda berinisial IK (21) mengalami luka.
"IK mengalami luka lecet pada bagian pelipis sebelah kiri dan luka pada bibir," bebernya.
Hampir sejam bentrok, massa yang bertikai berhasil dibubarkan aparat kepolisian. Polisi menduga tawuran turut dipicu adanya provokasi dari pemuda kecamatan lain.
"Adanya salah satu pemuda Jalan Kandea 3 Lorong 2, Kecamatan Tallo, Kota Makassar, yang diduga ikut terlibat melakukan perkelahian kelompok," pungkas Abdul Samad.































































