Parthenon di Yunani memiliki struktur yang terkenal seperti tampak agak miring. Apakah sengajar?
Parthenon awalnya dirancang dan dibangun sebagai kuil yang didedikasikan untuk Athena, sang dewi perang, pada Zaman Keemasan (Golden Age). Setelah 15 tahun dibangun, Parthenon memiliki banyak peran selama abad-abad berikutnya. Di antaranya adalah gereja, masjid, bahkan gudang mesiu.
Saat menjadi gudang mesiu, bangunan ini mengalami kerusakan yang begitu parah akibat pengeboman oleh pasukan Venesia pada 1687 silam. Parthenon hingga saat ini merupakan salah satu prestasi arsitektur paling terkenal dalam sejarah. Hal ini karena satu trik pada strukturnya berupa lengkungan yang sengaja dibuat untuk mengimbangi ilusi optik.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ilusi optik ini baru muncul 400 tahun setelah pembangunannya rampung, dan ditulis oleh Vitruvius, seorang arsitek Romawi yang hidup pada abad ke-1 Sebelum Masehi.
Ilusi Optik Vitruvius
Dalam tulisannya, sang arsitek menuliskan bahwa pilar bangunan tersebut sengaja dibuat sedikit melengkung atau miring. Hal ini karena, secara alami, beberapa bangunan yang lurus terlihat cekung di mata beberapa orang.
Vitruvius juga menjelaskan mengenai bagian alas pilar yang sisi-sisinya juga sengaja dibuat melengkung ke arah tengah supaya kesan melesak itu bisa dikoreksi secara visual.
Pandangan ini berkembang dengan adanya ahli-ahli lain yang ikut menambahkan klaim baru. Ada juga ilusi cahaya yang sengaja dimanfaatkan untuk menutupi ketidaksempurnaan bentuk bangunan megah ini.
Bantahan dari Studi Terbaru
Dalam sebuah studi yang ditulis oleh seorang pakar matematika dari University of Oxford, Alain Goriely, dan dipublikasikan di Royal Society Open Science, disebutkan bahwa ilusi optik Parthenon hanyalah sebuah ilusi.
Dengan penyelidikan yang begitu rinci dan menggunakan pemodelan komputasi yang kompleks, ia menjelaskan bahwa dari mitos yang beredar mengenai Parthenon, tidak satu pun klaimnya benar.
Adapun lengkungan-lengkungan yang disebutkan memang ada. Namun, ukurannya tidak signifikan untuk menciptakan ilusi optik pada mata manusia. Lengkungan tersebut hanya berukuran sekitar 0,7 inci.
Sang pakar matematika berpendapat bahwa lengkungannya lebih mungkin ditujukan untuk masalah yang jauh lebih sederhana, seperti mencegah genangan air hujan atau bahkan hanya karena lebih sedap dipandang.
Alain Goriely menjelaskan bahwa mitos yang dipercaya selama ribuan tahun ini barangkali berasal dari penghormatan berlebih terhadap sejarah Yunani Kuno yang dimulai selama Zaman Pencerahan (Enlightenment).
"Berdasarkan visi romantis ini, Parthenon diasumsikan telah dirancang dan dibangun dengan kesadaran penuh. Seolah para pembangunnya memiliki gabungan pengetahuan tentang ilmu pengetahuan modern abad ke-20 dan lebih banyak lagi," ujarnya, dikutip dari Pop Science, Minggu (20/9/2026).
Tidak lupa, Goriely mengajak publik untuk mengamati langsung bangunan Yunani Kuno tersebut dan barulah memutuskan apakah benar ilusi optik itu memang ada.
Penulis adalah peserta magangHub Kemnaker di detikcom.































































