Berangkat dari persoalan air gambut yang keruh dan asam di Kalimantan Tengah, enam siswa SMA Negeri 3 Palangka Raya menciptakan inovasi filtrasi air bernama PURE-PEAT. Karya penelitian tersebut mengantarkan mereka meraih medali emas dalam Lomba Peneliti Belia 2026 yang diselenggarakan Indonesian Young Scientist Association (IYSA) di Universitas Indonesia, Depok, Jawa Barat.
Tim peneliti tersebut terdiri dari Geovan Marvellino, Katherine Allusia Handra, Gladys Nathazia Ananda Debint, Chintya Putri Jasmine, Realynn Telabang Narang, dan Marsel U. Mereka memanfaatkan potensi bahan lokal untuk mengembangkan teknologi penyaringan air gambut yang lebih terjangkau dan ramah lingkungan.
"Penelitian kami mengusung judul PURE-PEAT: Integrasi Purun, Pasir, Limbah Kayu, dan Kerikil sebagai Media Filtrasi untuk Menjernihkan dan Menetralkan pH Air Gambut Berbasis Kearifan Lokal," ujar Ketua Tim Peneliti Belia SMAN 3 Palangka Raya Geovan Marvellino dalam keterangan yang diterima detikKalimantan, Jumat (23/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Inovasi filter air gambut PURE-PEAT dari SMAN 3 Palangka Raya. Foto: Dok. Istimewa |
Geovan mengatakan, gagasan itu berangkat dari kondisi geografis Kalimantan Tengah yang memiliki kawasan lahan gambut luas. Air gambut umumnya berwarna pekat, memiliki tingkat keasaman tinggi, serta mengandung bahan organik yang memengaruhi kualitas air.
"Kondisi tersebut menjadi tantangan bagi kami dalam penyediaan air bersih bagi masyarakat. Kami mencoba mencari solusi dengan mengoptimalkan sumber daya yang mudah ditemukan di lingkungan sekitar," katanya.
Dalam pengembangan PURE-PEAT, mereka mengombinasikan tanaman purun, pasir, kerikil, serta arang dari limbah kayu sebagai media filtrasi. Perpaduan bahan tersebut dirancang untuk membantu memperbaiki kualitas air gambut sekaligus memanfaatkan material lokal yang berpotensi bernilai guna.
"Hasil pengujian menunjukkan prototipe dengan susunan media paling optimal mampu meningkatkan pH air gambut dari 4,0 menjadi 6,5. Selain itu, tingkat kejernihan air dilaporkan meningkat hingga 60 persen," ujarnya.
Capaian tersebut memperlihatkan potensi pemanfaatan bahan lokal dalam pengolahan air gambut. Meski demikian, air hasil filtrasi belum dapat dinyatakan aman untuk diminum hanya berdasarkan perubahan pH dan kejernihan.
"Pengujian lanjutan terhadap parameter mikrobiologi dan kimia tetap diperlukan untuk memastikan kelayakannya," ujarnya.
Geovan dan kawan-kawan menyampaikan terima kasih kepada Dinas Pendidikan Provinsi Kalimantan Tengah atas dukungan yang diberikan selama proses penelitian hingga keikutsertaan mereka dalam kompetisi di Universitas Indonesia.
Menurut Geovan, dukungan tersebut menjadi bagian penting dalam mendorong para siswa mengembangkan kemampuan penelitian dan berani berkompetisi di tingkat yang lebih luas.
Ia berharap dukungan terhadap penelitian dan inovasi pelajar di Kalimantan Tengah dapat terus berlanjut agar semakin banyak siswa memperoleh kesempatan untuk mengembangkan potensi serta menghasilkan karya yang bermanfaat.
"Raihan medali emas ini sekaligus memperkuat semangat SMAN 3 Palangka Raya dalam mengembangkan budaya penelitian melalui slogan "Riset Hari Ini untuk Lingkungan yang Lebih Baik Esok Nanti"," pungkasnya.
Tim berencana menyempurnakan prototipe dan metodologi PURE-PEAT agar potensi teknologi filtrasi tersebut dapat dikaji lebih lanjut. Mereka berharap inovasi berbasis kearifan lokal ini dapat terus dikembangkan sebagai salah satu alternatif dalam menjawab tantangan pengolahan air gambut di Kalimantan Tengah.
Simak Video "Video Terpopuler Sepekan: OTT KPK di BNPB-Langit Oranye di Palangka Raya"
Kaya Toast With Own Returned Selamat Datang Don For Appearing(des/des)





























































