Peristiwa tragis menimpa Rachel Apa, seorang mantan atlet hoki berusia 24 tahun yang dikenal dalam kondisi kebugaran prima (perfect health). Saat mengikuti maraton pertamanya di New York City Marathon, Rachel ambruk mendekati garis finish dan dinyatakan meninggal dunia beberapa jam kemudian di rumah sakit.
Penyebab kematian atlet muda ini terkonfirmasi akibat rhabdomyolysis (sering disebut rhabdo), sebuah kondisi medis berbahaya yang dipicu oleh kerusakan serta pemecahan jaringan otot secara ekstrem.
Pada awal perlombaan sekitar pukul 11.30 pagi, tepatnya di kilometer ke-14, Rachel sempat mengabari ayahnya, Steve Apa, melalui pesan singkat. Namun, menginjak pukul 13.30, respons pesan Rachel berubah drastis dan ia hanya menuliskan kata "aw" (kesakitan). Tak lama setelah balasan pesannya terhenti, ia mendadak ambruk di mil ke-24, hanya berjarak sekitar 3,5 kilometer sebelum garis finish 42,195 km.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apa Itu Rhabdomyolysis dan Mengapa Bisa Berbahaya?
Chief Medical Officer di People Inc., Dr Sohaib Imtiaz, menjelaskan bahwa secara sederhana rhabdomyolysis berarti pemecahan atau hancurnya jaringan otot secara cepat. Kondisi ini bisa terjadi ketika olahraga ekstrem dikombinasikan dengan faktor lain seperti cuaca panas, dehidrasi, konsumsi obat-obatan, sampai kondisi genetik tersembunyi.
Ketika otot yang rusak pecah akibat regangan berulang selama berlari, sel-sel otot kehabisan energi dan mati. Sel-sel ini kemudian melepaskan kandungannya, termasuk kalium (potasium) dan protein mioglobin, ke dalam aliran darah.
"Bukan otot yang rusak yang menyebabkan masalah utama, melainkan dampak dari pemecahan otot tersebut terhadap tubuh. Hal ini dapat menyebabkan lonjakan kalium berbahaya yang dapat menghentikan detak jantung secara mendadak, serta memicu gagal ginjal, penurunan tekanan darah secara drastis, atau masalah pembekuan darah," tegas Dr Imtiaz kepada People dikutip Jumat (6/11/2026).
Pasien Kerap Merasa Bugar Sebelum Ambruk
Dr Imtiaz menegaskan bahwa rhabdo pada pelari muda yang bugar memang tergolong jarang, namun tetap bisa terjadi jika otot dipaksa bekerja berat selama berjam-jam. Bahaya terbesarnya terletak pada gejala yang sering kali tidak terlihat (silent damage) sejak awal.
Selain itu, ia menambahkan bahwa rhabdo dan tahap awal tersengat panas (heat illness) dapat memicu linglung atau kebingungan (confusion).
"Banyak orang tidak pernah mengalami kombinasi gejala klasik berupa nyeri otot, lemas, dan urine berwarna gelap, sehingga kerusakan serius berkembang secara diam-diam. Lonjakan kalium tidak menimbulkan gejala sampai akhirnya tiba-tiba mengganggu irama detak jantung," papar Dr Imtiaz.
Berikut beberapa tanda peringatan rhabdo yang harus diwaspadai:
- Nyeri Otot Ekstrem: Rasa sakit yang lebih parah atau berlangsung lebih lama dari pegal biasa, terutama disertai pembengkakan, rasa kaku, lemas, atau kesulitan bergerak.
- Perubahan Warna Urine: Urine berwarna sangat gelap (seperti teh) atau frekuensi buang air kecil menurun drastis.
- Gejala Sistemik: Mual, muntah, demam, kelelahan yang tidak biasa, hingga rasa bingung (confusion).
Dr Imtiaz juga mengingatkan agar pelari berhati-hati saat cuaca panas dan menjaga kecukupan cairan tanpa berlebihan minum air putih polos yang dapat mengencerkan kadar natrium darah.
Saksikan Live DetikPagi:
Simak Video "Video: Tren Lari Makin Kencang, Sudah Benarkah Strategi Latihannya?"
[Gambas:Video 20detik](kna/kna)

























































