Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi tahunan di Aceh pada Oktober 2026 sebesar 5,05 persen. Angka ini tertinggi di Sumatera dan nomor sembilan secara nasional.
"Artinya harga barang dan jasa secara umum naik rata-rata sebesar 5,05% dibandingkan Oktober tahun lalu," kata Kepala BPS Aceh Agus Andria dalam konferensi pers virtual, Senin (2/11/2026).
Berdasarkan data inflasi menurut kelompok pengeluaran, kata Agus, makanan, minuman, dan tembakau memberikan andil inflasi tahunan tertinggi sebesar 2,04 persen. Inflasi tahunan dipicu harga beras, nasi dengan lauk, bensin, tomat, dan daging ayam ras.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Di sisi lain, terdapat komoditas yang memberikan pengaruh deflasi, di antaranya baju muslim wanita, cabai merah, telur ayam ras, bawang merah, ikan biji nangka/ikan kuniran," jelas Agus.
Menurutnya, inflasi bulan di Aceh sebesar 0,13 persen dengan kelompok penyumbang kenaikan harga di antaranya makanan dan minuman/restoran. Kelompok ini mengalami inflasi sebesar 0,77 persen dan memberikan andil sebesar 0,09 persen terhadap inflasi.
"Terdapat beberapa komoditas yang mempengaruhi inflasi bulanan, yaitu cabai merah, cabai rawit, nasi dengan lauk, tomat, dan ikan bandeng," ujar Agus.
Agus menyebutkan, BPS memantau inflasi di lima kabupaten kota yaitu Banda Aceh, Lhokseumawe, Meulaboh, Aceh Tengah, dan Aceh Tamiang. Pada Oktober, terjadi inflasi tahunan di lima daerah tersebut
Inflasi tahunan tertinggi terjadi di Kabupaten Aceh Tengah sebesar 7,11 persen, sedangkan paling rendah terjadi di Meulaboh sebesar 3,54 persen. Sementara inflasi bulan tertinggi
"Secara bulanan, inflasi tertinggi terjadi di Kab. Aceh Tengah sebesar 1,01 persen, dan deflasi bulanan terdalam terjadi di Kota Lhokseumawe sebesar 0,32 persen," ujarnya.
(agse/dhm)



























































