Senin (2/11/2026) pagi, antrean pembeli mengular melintasi trotoar Jalan Otto Iskandardinata Nomor 255, Kota Bandung. Wangi semerbak ragi dan panggangan roti tradisional langsung menyengat hidung begitu pengunjung mendekati pintu masuk sebuah bangunan berarsitektur lama.
Di atas etalase kaca berbingkai kayu tebal yang mulai memburam, tumpukan roti tertata rapi dalam balutan plastik bening bersablon logo merah dan hijau sederhana tanpa perekat modern.
Toko Roti Sidodadi menjadi mesin waktu di tengah modernisasi kuliner kota. Beroperasi sejak 10 Mei 1954, tempat ini menolak mengikuti tren roti kekinian yang berongga besar dan mengembang ringan. Pengelola justru memilih mempertahankan resep kuno, menghasilkan roti dengan tekstur yang lebih berat, padat, dan tanpa campuran bahan kimia pelembut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Proses Panjang di Balik Dapur
Pengelolaan toko kini berada di tangan Vera, generasi ketiga dari pendiri Sidodadi, Hiendrawan Kosasih. Sejak kecil, Vera turun langsung ke dapur untuk menimbang tepung terigu dan mempelajari seluruh tahapan produksi.
Vera memastikan dapur Sidodadi memproduksi roti baru setiap harinya. Ia menolak mempercepat proses fermentasi, sebuah langkah yang kerap dilakukan industri roti modern untuk memangkas waktu produksi.
"Kami setiap hari bikin roti, jadi tidak ada adonan sisa untuk besok. Prosesnya memakan waktu semalaman. Kami mengaduk adonan pada malam hari, lalu membiarkannya hingga pagi baru dibentuk," kata Vera.
Toko Roti Sidodadi yang legendaris di Bandung Foto: Nedzar Rabbany El Haq |
Pekerja menggunakan mesin hanya pada tahap pengadukan adonan. Setelah itu, proses pembentukan roti sepenuhnya mengandalkan keterampilan tangan pekerja secara manual. Pengelola juga mempertahankan penggunaan ragi murni dalam takaran wajar untuk proses pengembangan.
Menolak Pengawet dan Pelembut Buatan
Keputusan mempertahankan resep warisan membuat karakter fisik roti Sidodadi berbeda. Saat digigit, teksturnya terasa sedikit kasar di luar namun tetap lembut di dalam. Roti ini hanya mampu bertahan maksimal empat hari di suhu ruang sebelum akhirnya berjamur secara alami, karena pengelola sama sekali tidak menambahkan bahan pengawet.
Toko Roti Sidodadi yang legendaris di Bandung Foto: Nedzar Rabbany El Haq |
Toko ini menawarkan lebih dari 20 varian rasa, mulai dari cokelat keju, susu, nanas, kismis, kornet, hingga kue gambang lawas. Salah satu varian yang paling banyak diburu pengunjung adalah Roti Frans Cokelat. Roti yang dijual sekitar harga Rp5.000 sampai dengan Rp20.000-an
Misi awal sang kakek pada era 1950-an adalah menyediakan roti yang kala itu identik sebagai makanan mewah bawaan orang Belanda dengan harga merakyat. Ferra meneruskan misi tersebut. Ia menyiasati lonjakan harga bahan baku agar harga jual roti tetap terjangkau.
"Kalau harga bahan naik, mau tidak mau kami harus menaikkan harga jual. Tapi kami tidak menaikkannya secara drastis," ujar Vera.
Merawat Kenangan Pelanggan Setia
Cita rasa yang tidak pernah berubah sejak puluhan tahun lalu membentuk ikatan emosional antara toko dan pembelinya. Di bawah pencahayaan lampu ruangan yang hangat, pengunjung dari berbagai kalangan terus berdatangan tanpa henti. Pembeli tidak hanya didominasi kelompok orang tua yang ingin bernostalgia, tetapi juga pelancong dari luar kota serta anak muda yang penasaran setelah melihat ulasan kuliner di media sosial.
Sistem pemesanan mengalami sedikit penyesuaian sejak pandemi. Pelanggan kini memesan dan membayar di area dalam, lalu menunggu staf memanggil pesanan mereka yang telah siap. Pengelola memprioritaskan pemenuhan pesanan daring terlebih dahulu sebelum membuka pintu bagi pelanggan yang datang langsung pada pukul 10.30 WIB. Biasanya, seluruh varian favorit sudah ludes terjual menjelang siang hari.
Vera menyadari banyak pelanggan menyimpan memori masa kecil di toko ini. "Banyak pembeli yang bercerita bahwa dulu mereka sering dibelikan roti ini oleh kakek atau ibunya, dan sekarang mereka datang lagi. Ada memori inti yang tertinggal di sini," ucap Fera.
Nama Sidodadi berasal dari bahasa Jawa "sido dadi" yang bermakna sudah jadi atau semakin menjadi. Harapan tersebut terus dijaga oleh Ferra dengan mulai mengenalkan resep rahasia keluarga kepada anak-anaknya. Melalui pewarisan ilmu ke generasi keempat, Toko Roti Sidodadi memastikan aroma ragi tradisional tetap mengepul dari dapur mereka dan merawat ingatan ribuan pelanggan setianya.
(yum/yum)
























































