Suara ketukan canting tembaga di atas kain primisima riuh terdengar di sebuah galeri rumahan di Mangkalaya, Kabupaten Sukabumi. Sementara di galeri Batik Kakak, Kiwari, Kota Sukabumi, sebuah ponsel pintar berdenting, menandakan notifikasi transaksi pembayaran nontunai yang masuk dari pelanggan.
Sepasang suami istri muda, Fitri Apriyanti dan Moch Faisal Nasrullah, tengah menenun asa. Pasangan pemilik brand Batik Kakak ini tak pernah menyangka, hobi corat-coret menggambar batik kini menjadi jalan hidup dan sandaran ekonomi bagi belasan kepala keluarga di sekitarnya.
Di Jawa Barat, wilayah dengan transaksi QRIS tertinggi se-Indonesia, Batik Kakak memperlihatkan bahwa pembayaran digital bukan sekadar soal kemudahan membayar. Sekitar 75 persen transaksinya kini lewat QRIS dan transfer bank, arus kasnya tercatat real-time, dan usaha yang bermula dari modal Rp20 jutaan itu menggerakkan 10 penjahit serta lima home industry mitra. Sejak 2025, usaha ini juga menjadi UMKM binaan Bank Indonesia Jawa Barat.
Fitri Apriyanti dan Moch Faisal Nasrullah (Foto: Siti Fatimah/detikJabar). |
Meninggalkan Zona Nyaman demi Batik
Keputusan besar itu diambil pada 2021. Fitri dan Faisal yang saat itu memiliki karier mapan di sektor perbankan dan instansi pemerintahan non-PNS, memilih meninggalkan zona nyaman untuk membesarkan Batik Kakak, usaha yang sudah dirintis secara eceran sejak 2018.
"Kita mulai 2018, tapi waktu itu masih kerja, batik ini hanya usaha kecil-kecilan. Baru 2021 kita mutusin buat resign dan fokus ke usaha," cerita Fitri saat berbincang dengan detikJabar belum lama ini.
Keputusan itu berbuah manis. Berawal dari modal nekat sebesar Rp20 jutaan, kini saban bulan Batik Kakak meraup omzet lebih dari Rp70 juta. Sekitar 500 lembar kain batik diproduksi bertahap setiap bulan, lalu diolah menjadi busana kekinian seperti outer*, kemeja, *obi belt*, rok batik, hingga produk *hampers.
Produk mereka cepat mencuri perhatian anak muda dan ibu muda. Batik Kakak melabrak stigma batik yang terkesan "tua" dan berat dengan pola simpel serta warna-warna soft bernuansa pastel.
Merangkul QRIS dan Transaksi Nontunai
Sebelum mengadopsi teknologi digital pada pertengahan 2021, perjalanan bisnis Batik Kakak penuh keterbatasan. Pemasaran hanya mengandalkan referensi dari mulut ke mulut, tawaran door-to-door untuk seragam instansi, dan galeri fisik. Pencatatan keuangan pun masih tercampur.
Seiring berkembangnya usaha dan kebutuhan pasar, transformasi digital menjadi keharusan. Batik Kakak merapikan pembukuan dengan aplikasi pencatatan digital dan Microsoft Excel, lalu mengadopsi sistem pembayaran digital secara penuh.
Kini galeri Batik Kakak menjadi contoh inklusi keuangan di tingkat akar rumput. Kanal pembayaran nontunai yang disediakan meliputi QRIS, transfer bank lewat mobile banking, hingga Debit Merchant. Untuk pengadaan seragam skala besar, pembayaran didukung sistem resmi berbasis perbankan.
"Sejauh ini transaksi QRIS aman dan sangat memudahkan. Kalaupun ada kendala teknis, biasanya dibantu oleh bank penerbit QRIS dengan respons yang lumayan cepat," ungkap Fitri.
Batik Kakak Sukabumi (Foto: Siti Fatimah/detikJabar). |
Transisi ini mengubah perilaku konsumen. Fitri mencatat, sekitar 75 persen transaksi di galeri maupun pemesanan Batik Kakak kini menggunakan QRIS dan transfer bank, sedangkan transaksi tunai tersisa sekitar 25 persen. Sistem digital juga menjaga alur kas (cash flow) usaha, terutama ketika pesanan besar datang bersamaan.
"Sistem digital membantu menjaga kepastian alur kas usaha dengan mencatat pemasukan dan pengeluaran secara real-time, memantau pembayaran pelanggan, serta mengatur jadwal ke pemasok. Saat ada pesanan besar, kita bisa menghitung kebutuhan modal produksi dan tenaga kerja secara presisi agar alur kas tidak terganggu," urai Fitri.
Menariknya, meski omzet melonjak dan pencatatan usaha kian transparan, Fitri memilih tidak bergantung pada pinjaman perbankan seperti Kredit Usaha Rakyat (KUR). Pengembangan usaha sejauh ini mengandalkan perputaran dana pribadi dan keuntungan bersih usaha yang mencapai 40 persen.
Potret Inklusi Keuangan: Denyut QRIS di Jawa Barat dan Sukabumi
Praktik Batik Kakak sejalan dengan tren di tingkat provinsi. Data Kantor Perwakilan Bank Indonesia (KPw BI) Provinsi Jawa Barat mencatat, Jawa Barat menjadi wilayah dengan jumlah transaksi QRIS tertinggi se-Indonesia, disokong 14,17 juta pengguna dan 10,45 juta merchant.
Geliat serupa terekam di Kota Sukabumi. Berdasarkan data terbuka (open data), jumlah merchant QRIS di Kota Sukabumi pada 2025 melonjak menjadi 328.575 merchant, tumbuh 21,95 persen dibanding tahun sebelumnya yang berjumlah 269.436 merchant. Adopsi pembayaran digital itu sangat kuat di sektor usaha rakyat: sekitar 93 persen *merchant QRIS di Sukabumi adalah pelaku UMKM.
Batik Kakak Sukabumi Foto: Siti Fatimah |
Menggerakkan Ekonomi Warga, Menembus Pasar Luar
Bagi Fitri, pertumbuhan Batik Kakak tidak boleh dinikmati sendiri. Usaha ini harus menjadi penggerak ekonomi warga Sukabumi.
Saat ini Batik Kakak bermitra dengan 5 unit home industry perajin di Jawa Barat dan mempekerjakan 10 penjahit internal di galeri. Mayoritas penjahit adalah ibu rumah tangga di sekitar tempat tinggal Fitri.
"Penjahit internal kita rata-rata ibu rumah tangga. Melalui pekerjaan ini, mereka bisa mendapatkan penghasilan tambahan dan membantu menopang perekonomian keluarganya," kata Fitri.
Di sisi pemasaran, Instagram dan TikTok terbukti ampuh mendobrak batas geografis. Tanpa membuka cabang di kota besar, calon pembeli dari berbagai daerah bisa langsung berinteraksi dan memesan lewat Direct Message atau WhatsApp.
Pasar Batik Kakak kini membentang dari Jawa Barat, Jakarta, hingga Pulau Kalimantan. Batik Kakak bahkan sudah pernah menerima pesanan 28 paket hampers batik berupa sajadah dan pouch dari Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Mesir. Produk rumah tangga berbasis batiknya juga kerap dikirim ke konsumen di Jepang, Malaysia, hingga Inggris.
Pala Sukabumi jadi Pola hingga Tembus Panggung Osaka
Proses kreatif Batik Kakak memadukan kebudayaan lokal dan teknologi. Semuanya dimulai dari sketsa manual di atas kertas, lalu dikembangkan secara digital lewat jBatik, aplikasi desain batik berbasis teknologi fractal yang diperoleh dari pembinaan Lembaga Penjamin Simpanan (LPS) dan Batik Fractal.
"Kita mulai dari corat-coret dulu, lalu masuk ke aplikasi digital namanya jBatik. Itu kita dapat dari pembinaan LPS dan Batik Fractal. Dari situ, sketsa dicetak ukuran 15x15 atau 20x20 cm dan dikirim ke pengrajin khusus pembuat canting tembaga untuk diproduksi," jelas Fitri.
Lewat jBatik, Fitri mengangkat identitas tanah kelahirannya. Jika daerah lain mengagungkan motif flora klasik, Batik Kakak menyematkan buah dan rempah pala khas Sukabumi.
"Kita ingin mengenalkan Sukabumi dari sisi yang berbeda. Bukan hanya lewat alam atau wisata, tapi juga dari rempah-rempahnya, salah satunya pala," tuturnya.
Batik motif pala itu akhirnya sampai ke panggung dunia. Lewat kurasi ketat bersama Batik Fractal dan LPS, karya Batik Kakak dalam bentuk home decor seperti storage box dan wall hanging lolos mewakili Indonesia di World Expo 2025 Osaka, Jepang, pameran dunia yang menjadi ajang unjuk teknologi, budaya, dan inovasi berbagai negara. Batik Fractal, salah satu kurator Paviliun Indonesia, memboyong empat brand batik dari berbagai daerah, termasuk Batik Kakak.
"Kita ikut kurasi dari Batik Fractal, yang memang sudah berkolaborasi lama dengan kita. Dari sana, dipilih beberapa brand untuk mendampingi Paviliun Indonesia. Alhamdulillah Batik Kakak lolos dan jadi salah satu yang ditampilkan di Expo 2025," ungkap Fitri.
Sederet apresiasi menyusul, mulai dari Juara Favorite CIFEST (Cinematography of Investment Festival) tingkat Jawa Barat dua tahun berturut-turut (2023-2024) hingga Penghargaan UMKM Potensial Ekspor 2025 dari Dinas Koperasi dan UMKM Provinsi Jawa Barat.
Berguru ke ESMOD bersama Bank Indonesia
Lompatan itu tak lepas dari pendampingan yang intensif. Sejak 2025, Batik Kakak terpilih menjadi UMKM Binaan KPw BI Provinsi Jawa Barat di bidang fashion wastra (kain tradisional).
Lewat program BI, Fitri dan suami tidak hanya belajar literasi keuangan dan digitalisasi pemasaran melalui program onboarding*. Mereka juga difasilitasi mengikuti *short course desain dan bisnis mode tiga bulan di sekolah mode ESMOD Jakarta.
"Sejak 2025 kami menjadi UMKM Binaan Bank Indonesia KPw Jabar. Kami dapat pembinaan short course dengan sekolah mode ESMOD Jakarta selama 3 bulan dengan segala fasilitas. Kami juga diikutkan dalam pameran Karya Kreatif Jabar (KKJ) 2025 dan 2026, bahkan diberi kesempatan untuk fashion show product launching," kenang Fitri.
Bagi Fitri, ruang yang dibuka BI juga membangun jaringan antar-UMKM. "Selain ilmu pengembangan usaha, kami bisa bertemu dengan UMKM binaan dari daerah lain se-Jawa Barat. Dari sana muncul peluang untuk berkolaborasi menaikkan kelas produk lokal," tambahnya.
Pendampingan itu bermuara pada Sunda Karsa Fest: Karya Kreatif Jawa Barat 2026, 26-28 Juni 2026 di Trans Convention Centre, Bandung. Lewat fashion show, Batik Kakak memperagakan tiga koleksi terbaru yang memadukan corak tradisional Sukabumi dengan desain modern kontemporer.
Kepala Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Jawa Barat, Junanto Herdiawan, menegaskan komitmen BI memperkuat ekosistem UMKM secara terintegrasi, mulai dari kapasitas usaha, digitalisasi, pembiayaan, hingga akses pasar.
"Bank Indonesia terus berkomitmen mendorong penguatan daya saing UMKM melalui pendekatan yang terintegrasi. Kami berharap UMKM Jawa Barat mampu menghadirkan produk yang inovatif, berkualitas, dan memiliki identitas budaya yang kuat sehingga dapat bersaing di pasar nasional maupun global," ujar Junanto saat itu.
Menurut Junanto, peluncuran produk tidak hanya memperkenalkan koleksi baru, tetapi juga menjadi sarana membangun identitas merek (branding) dan keunggulan kompetitif bagi produk kreatif lokal.
Dukungan terhadap batik lokal juga dilakukan oleh Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Sukabumi. Ketua Dewan Kerajinan Nasional Daerah (Dekranasda) Kota Sukabumi, Ranty Rachmatilah menilai, batik tidak hanya memiliki nilai seni, tetapi juga menjadi identitas budaya yang harus dijaga dan dikembangkan secara berkelanjutan.
"Batik bukan hanya kain, tetapi warisan budaya, identitas, dan karya luhur yang harus kita jaga bersama," ujar Ranty.
Ia menambahkan, pelestarian batik perlu diiringi dengan dukungan nyata terhadap para perajin, mulai dari promosi produk, perluasan akses pasar, pelatihan hingga penggunaan sistem digital. Dengan begitu, batik tidak hanya bertahan sebagai warisan tradisi, tetapi juga mampu memberikan manfaat ekonomi bagi masyarakat.
Harapan bagi Ekosistem Digital UMKM Daerah
Meski produknya sudah melenggang di ajang nasional dan internasional, Fitri menyadari tantangan UMKM batik daerah masih panjang. Di tengah gempuran fast fashion, UMKM batik lokal dituntut tidak sekadar go digital, tetapi juga membangun fondasi bisnis yang adaptif, sehat, dan berkelanjutan.
"UMKM batik tidak cukup hanya go digital, tapi juga harus mampu membangun bisnis yang sehat dan berkelanjutan. Kita harus berani berinovasi dan menonjolkan kreativitas yang berbeda agar terus dilirik konsumen, tanpa menghilangkan nilai tradisinya," tegas Fitri.
Ia berharap Bank Indonesia dan pemangku kepentingan daerah terus memperluas pendampingan secara berkesinambungan.
"Harapan kami, Bank Indonesia dan seluruh pemangku kepentingan terus mendukung UMKM daerah. Bukan hanya dalam hal digitalisasi pembayaran seperti QRIS, tetapi juga dalam membangun ekosistem usaha yang lebih kuat dan berdaya saing," tutur Fitri.
Fitri memimpikan kolaborasi yang kian erat antara Bank Indonesia, pemerintah daerah, perbankan, dan komunitas kreatif untuk membuka pasar yang lebih luas, baik lewat pameran business matching maupun penguatan pemasaran digital.
"Harapan terbesar Batik Kakak adalah agar UMKM di daerah seperti Sukabumi tidak hanya menjadi pengguna teknologi digital, tetapi juga mampu tumbuh, naik kelas, dan menjadi pilar penggerak ekonomi daerah," kata Fitri penuh optimisme.
Simak Video "Kumpul Bersama Rakyat, Menteri UMKM Ajak Perkuat Solidaritas dan Satukan Semangat Kemerdekaan"
Cara Mendaftar Lengkap Dalam Pendaftaran Secara Dalam Borang Pengeluaran(mso/mso)


























































