Perjuangan menantikan kehadiran buah hati membutuhkan kesabaran dan perjuangan ekstra. Kebahagiaan ini dirasakan oleh praktisi kesehatan dr Gia Pratama dan sang istri yang akhirnya berhasil menyambut kehamilan lewat prosedur In Vitro Fertilization (IVF) atau bayi tabung, setelah menanti selama 8 tahun.
Metode IVF kini menjadi salah satu pilihan medis terdepan bagi pasangan suami istri yang mengalami masalah kesuburan dan menanti buah hati. Prosedur teknologi reproduksi berbantu ini dilakukan dengan cara mempertemukan sel telur dan sel sperma di luar tubuh manusia (di laboratorium), sebelum akhirnya ditanamkan kembali ke dalam rahim ibu.
Kondisi Medis yang Membutuhkan Prosedur IVF
Dokter spesialis kebidanan dan kandungan, dr Febriyan Nicolas K, SpOG, menjelaskan bahwa prosedur bayi tabung biasanya disarankan ketika metode promil lain (seperti alami atau inseminasi buatan) tidak memungkinkan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Nah, kalau IVF ini dilakukan misalnya karena saluran telurnya tersumbat, jadi sperma dan sel telur tidak bisa ketemu secara alami. Di situ kita baru lakukan IVF," jelas dr Nico yang tidak terlibat dalam prosedur bayi tabung yang dijalanu dr Gia dan istri, saat berbincang di detikSore beberapa waktu lalu.
Beberapa kondisi medis yang menjadi indikasi dilakukannya prosedur IVF antara lain:
- Sumbatan atau kerusakan pada saluran telur (tuba falopi).
- Endometriosis atau kista cokelat.
- Sindrom ovarium polikistik (PCOS) dan gangguan ovulasi lainnya.
- Jumlah atau kualitas sperma suami yang rendah.
- Adanya riwayat kelainan genetik yang berisiko diturunkan.
- Unexplained infertility (infertilitas yang tidak diketahui penyebab pastinya).
Tahapan Prosedur Bayi Tabung dari Awal Hingga Kehamilan
Prosedur IVF merupakan proses medis yang cukup kompleks. Secara umum, satu siklus IVF membutuhkan waktu sekitar 4 hingga 6 minggu, mulai dari tahap persiapan hormon hingga tes kehamilan.
Berikut tahapan utama dalam proses bayi tabung:
Stimulasi Ovarium: Calon ibu diberi suntikan hormon untuk merangsang ovarium agar menghasilkan beberapa sel telur matang sekaligus.
Pengambilan Sel Telur (Egg Retrieval): Sel telur yang telah matang diambil dari ovarium menggunakan prosedur medis khusus dengan bantuan panduan USG.
Pembuahan di Laboratorium: Di saat yang sama, sampel sperma suami diambil dan diseleksi kualitasnya. Sel telur dan sperma terbaik dikombinasikan di laboratorium untuk proses pembuahan.
Pemeriksaan Kualitas Embrio (PGT-A): Setelah pembuahan berhasil dan membentuk embrio (bakal janin), kualitas embrio akan diuji. Menurut dr Nico, faktor kualitas embrio sangat menentukan tingkat keberhasilan kehamilan.
Transfer Embrio (Embryo Transfer): Embrio terbaik yang telah lolos uji kualitas dimasukkan ke dalam rahim calon ibu. Kehamilan resmi terjadi ketika embrio tersebut berhasil menempel (implantasi) di dinding rahim.
Keberhasilan program IVF seperti yang dialami oleh dr Gia dan sang istri dipengaruhi oleh berbagai faktor, mulai dari usia pasangan, kualitas sperma dan sel telur, kondisi dinding rahim, hingga kesiapan mental dan fisik selama menjalani terapi.
Melalui kemajuan teknologi medis seperti PGT-A serta penanganan yang tepat dari tim dokter spesialis, peluang pasangan yang menanti bertahun-tahun untuk mendapatkan keturunan kini semakin terbuka lebar.

























































