Pakar Klimatologi Universitas Gadjah Mada (UGM) menyebut bongkahan es berdiameter 20 cm yang merusak atap rumah warga Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, bukan dari hasil awan Cumulonimbus. Pakar UGM juga bicara soal peluang bongkahan es itu terbentuk dari icing badan pesawat.
"Kalau yang dimaksud hasil dari Cumulonimbus, kayaknya mboten nggih (seperti tidak)," kata Pakar Klimatologi UGM, Dr. Emilya Nurjani saat dihubungi detikJogja, Selasa (3/11/2026).
Dikutip dari situs Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), awan Cumulonimbus adalah salah satu awan konvektif atau awan yang menjulang tinggi ke atas. Jika dilihat dari bentuknya, awan ini seperti jamur di mana pada bagian atas terdapat seperti bentuk topi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Pada kawasan tropis ketinggian awan ini dapat mencapai lebih dari 18 kilometer. Awan ini juga dapat menembus hingga lapisan stratosfer yang biasanya disebut sebagai overshooting top Cumulonimbus.
Jika dilihat dari permukaan, awan ini terlihat tebal, gelap, dan tinggi. Awan Cumulonimbus berpotensi menimbulkan cuaca ekstrem, hujan lebat, sambaran petir, hingga angin kencang.
Awan Cumulonimbus single sel memiliki siklus hidup yang berkisar antara 30-60 menit, sedangkan awan Cumulonimbus multisel ataupun super sel dapat lebih dari waktu tersebut.
Kembali soal dugaan penyebab asal muasal bongkahan es di rumah warga Pandak itu, muncul dugaan soal icing atau rontoknya es yang menempel pada badan pesawat. Emilya menyebut hal itu perlu kajian mendalam.
"Kalau icing dari badan pesawat, maka perlu dicari data saat kejadian apakah ada pesawat yang lewat di atas wilayah tersebut," ujarnya.
Sementara itu, Dukuh Jodog Bayu Yunarko mengatakan tidak ada pesawat melintas di Jodog saat kejadian tersebut terjadi. Dia menerangkan saat kejadian cuaca tidak hujan.
"Tidak ada pesawat lewat saat kejadian, hanya mendung saja saat kejadian itu," ucap Bayu saat dihubungi detikJogja hari ini.
Selain itu, Bayu juga mengaku tidak ada pabrik es di Jodog. Sehingga kemungkinan besar bongkahan es itu memang berasal dari atas.
"Pabrik es tidak ada, dan tidak ada angin kencang juga saat kejadian," ujarnya.
Sebagai informasi, peristiwa bongkahan es misterius jatuh di atap warga Jodog, Gilangharjo, Pandak, Bantul, itu terjadi pada Senin (2/11) pukul 08.00 WIB. Akibat bongkahan es itu, atap ruang tamu rumah warga itu jebol.
"Untuk atap ruang tamu yang rusak seluas 1x1 meter. Kalau korban jiwa maupun luka tidak ada karena kondisi rumah memang kosong," ucap Sekretaris BPBD Kabupaten Bantul, Ribut Bimo Haryo Tejo saat dihubungi detikJogja, Senin (2/11).

































































