Banjir melanda Aceh Tenggara pasca hujan lebat mengguyur. Kementerian Pekerjaan Umum (PU) turun tangan melakukan normalisasi sungai serta penanganan longsor di daerah tersebut.
Banjir di Aceh Tenggara kerap terjadi akibat meluapnya Sungai Lawe Kisam dan Sungai Lawe Kinga. Banjir yang terjadi menyebabkan ratusan warga terdampak.
Kepala Balai Wilayah Sungai (BWS) Sumatera I Asyari mengatakan untuk menangani kondisi darurat akibat banjir dan gangguan aliran sungai, pihaknya melakukan langkah awal melalui pembukaan kembali alur sungai dan normalisasi pada segmen-segmen yang mengalami penyempitan, pendangkalan, maupun hambatan aliran.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Langkah ini dilakukan untuk meningkatkan kapasitas aliran sungai dan memperlancar aliran air, sehingga genangan serta limpasan banjir di wilayah terdampak dapat segera dikurangi," kata Asyari dalam keterangannya, Selasa (27/10/2026).
Menurut Asyari, penanganan darurat merupakan langkah awal yang perlu dilanjutkan dengan penanganan permanen secara terpadu dari hulu hingga ke muara sungai. Penanganan banjir disebut tidak cukup hanya dilakukan pada lokasi yang terdampak.
"Diperlukan penanganan yang menyeluruh terhadap sistem sungai mulai dari bagian hulu, sepanjang alur sungai, hingga ke muara. Dengan pendekatan terpadu ini, kita berharap kapasitas sungai dalam mengalirkan debit banjir dapat ditingkatkan, pengendalian sedimen dapat dilakukan dengan lebih baik, dan risiko luapan sungai terhadap masyarakat dapat dikurangi," ujar Asyari.
BWS Sumatera I rencananya akan mulai melakukan penanganan permanen dalam bulan ini dan ditargetkan selesai secara keseluruhan pada Desember 2028. Program ini mencakup tiga komponen utama. Pertama, pembangunan sabo dam di bagian hulu untuk mengendalikan material sedimen dan aliran debris, mengurangi material yang terbawa menuju bagian hilir, serta membantu menjaga kapasitas dan fungsi alur sungai.
Kedua, katanya, pembangunan tanggul pengamanan atau pengendalian banjir pada segmen sungai yang melintasi kawasan rawan banjir. Infrastruktur ini ditujukan untuk mengendalikan limpasan sungai dan melindungi kawasan permukiman, infrastruktur, fasilitas umum, serta lahan masyarakat dari potensi luapan banjir.
Terakhir BWS akan melakukan pengerukan dan penataan muara sungai di bagian hilir untuk mengurangi pendangkalan dan hambatan aliran. Upaya ini diharapkan dapat meningkatkan kapasitas serta kelancaran aliran air menuju laut, sehingga aliran banjir dari hulu dapat terdistribusi dengan lebih baik dan potensi genangan akibat hambatan di muara dapat dikurangi.
"Ketiga komponen tersebut saling mendukung dan menjadi bagian dari satu kesatuan penanganan sungai. Pengendalian sedimen di hulu, pengamanan alur sungai melalui pembangunan tanggul, serta pengerukan dan penataan muara perlu dilaksanakan secara terintegrasi agar fungsi sungai dapat berjalan lebih optimal," tambah Asyari..
Menteri Pekerjaan Umum Dody Hanggodo mengatakan, Kementerian PU terus melakukan penanganan bencana hidrometeorologi melalui langkah tanggap darurat dan penyiapan penanganan jangka panjang guna mengurangi risiko banjir berulang.
"Penanganan banjir harus dilakukan secara cepat dan terukur, terutama untuk melindungi keselamatan masyarakat serta meminimalkan dampak terhadap permukiman. Selain penanganan darurat, kami juga menyiapkan langkah penanganan permanen agar risiko kejadian serupa dapat dikurangi," ujar Dody.



























































