Sedot lemak atau liposuction kerap dianggap sebagai salah satu cara instan untuk mendapatkan tubuh langsing. Prosedur ini dinilai bisa membantu menghilangkan lemak dalam waktu relatif singkat.
Namun, anggapan tersebut tidak sepenuhnya tepat. Sedot lemak sebenarnya bukan prosedur utama untuk menurunkan berat badan secara instan tanpa harus susahpayah menjalani diet atau olahraga.
Dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik, dr Gwendy Aniko, Sp.B.P.R.E, Subsp.M.O(K) dari Mayapada Hospital mengatakan bahwa sedot lemak sendiri pada dasarnya adalah prosedur untuk body contouring.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Body yang ideal. Orang boleh kurus tapi bentuk badannya nggak ideal, beda kan? Orang boleh gemuk tapi bagus (bentuk badannya) nggak usah diapa-apain, enak dilihat," kata dr Gwendy ketika ditemui di Mayapada Hospital, Jakarta Selatan, Jumat (6/11/2026).
"Jadi berat badan berkurang? Pastilah, tapi kan itu hanya sebab akibat kami sedot lemaknya, lemaknya pasti, jumlah massa kan itu kan ada timbangannya. Satu liter, satu kg kurang lebih, ya turun lah," sambungnya.
Dalam dunia medis, sedot lemak merupakan prosedur bedah kosmetik yang bertujuan mengangkat timbunan lemak pada area tubuh tertentu. Misalnya, bagian perut, paha, pinggul, lengan, hingga dagu.
Sementara itu, dokter spesialis bedah plastik, rekonstruksi, dan estetik dr Gammaditya Adhibarata Winarno, Sp.B.P.R.E mengatakan selain estetika, ada keuntungan lain dari sedot lemak itu sendiri.
"Bisa untuk quality of life, jadi meningkatkan kepercayaan diri pada pasien," kata dr Gamma.
dr Gamma menambahkan, masyarakat semakin kritis terhadap kesehatan, longevity, dan estetika. Mereka juga tak asal-asalan dalam memahami pilihan prosedur, manfaat, serta risiko dari setiap tindakan medis.
Kondisi ini mendorong pentingnya pendekatan yang tidak hanya berorientasi pada hasil estetika, tetapi juga mempertimbangkan kondisi dan kebutuhan masing-masing individu.

























































