Gunung Anak Krakatau di Selat Sunda, Lampung Selatan, kembali mengalami erupsi pada Selasa (20/10/2026) pagi. Dalam periode pengamatan tersebut, tercatat tiga kali letusan.
Kepala Pos Pengamatan Gunung Anak Krakatau di Desa Hargo Pancuran, Kecamatan Rajabasa, Lampung Selatan, Suwarno membenarkan adanya aktivitas erupsi tersebut. Ia menyebut erupsi terjadi karena suplai energi di gunung api itu masih berlangsung.
"Iya 3 kali pagi ini, suplai energi terus," kata Suwarno saat dikonfirmasi, Selasa (20/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Berdasarkan laporan aktivitas Gunung Anak Krakatau yang dirilis MAGMA Indonesia untuk periode pukul 00.00-06.00 WIB, aktivitas kegempaan masih terpantau. Gempa Hybrid atau Fase Banyak menjadi jenis gempa yang paling banyak tercatat, yakni 21 kali.
Selain itu, petugas merekam tujuh gempa Vulkanik Dangkal, tiga gempa Low Frequency, dua gempa Hembusan, dan satu gempa Vulkanik Dalam. Terdapat pula satu tremor menerus dengan amplitudo 1-10 milimeter dan amplitudo dominan 5 milimeter.
Pengamatan visual terhadap gunung api tersebut belum optimal karena kawasan puncak tertutup kabut dengan tingkat penghalang 0-III. Akibatnya, asap kawah tidak teramati selama periode pemantauan pagi. Cuaca di sekitar gunung dilaporkan berawan dengan angin lemah mengarah ke barat laut.
Rekaman kegempaan tersebut menjadi salah satu indikator yang digunakan untuk memantau aktivitas vulkanik Anak Krakatau. Namun, data itu tidak dapat digunakan secara terpisah untuk memastikan kapan letusan berikutnya akan terjadi.
Saat ini, Gunung Anak Krakatau masih berstatus Level III atau Siaga. Masyarakat, wisatawan, pengunjung, dan pendaki diminta menjauhi kawasan dalam radius 5 kilometer dari pusat erupsi.
PVMBG juga menetapkan larangan aktivitas dalam radius 1 kilometer dari pulau baru di sektor barat laut dan tenggara Anak Krakatau.
Potensi bahaya yang perlu diwaspadai meliputi lontaran batu pijar, hujan abu lebat, aliran lava, hingga erupsi sekunder akibat kontak material lava panas dengan air laut atau air hujan.
Masyarakat yang tinggal di kawasan pesisir Lampung dan Banten diimbau tetap tenang serta tidak mudah mempercayai informasi yang menyebut setiap erupsi Anak Krakatau akan memicu tsunami.
Warga diminta mengikuti perkembangan aktivitas gunung melalui kanal resmi MAGMA Indonesia dan PVMBG serta mematuhi arahan petugas dan BPBD setempat.



























































