Bayangkan, lagi nge-date pertama kali di tempat makan lalu sama-sama selilitan. Alih-alih mengambil sisa makanan di sela gigi dengan tusukan ataupun dental floss, pasangan malah mendesis atau menyesap angin kuat-kuat melalui sela gigi. Sssshhhh!
Ewh, bikin ilfeel alias ilang feeling nggak sih?
Ya oke lah, kesampingkan dulu kesan jorok. Pertanyaan lainnya, apakah benar cara ini efektif mengatasi selilitan?
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jawaban singkatnya: kadang berhasil, tapi tidak bisa diandalkan. Menyesep atau mendesis mungkin cukup manjur untuk menyingkirkan serpihan lunak, tapi sisa makanan yang benar-benar terjepit biasanya butuh benang gigi.
Sehabis makan, ada sisa makanan nyelip di sela gigi, lalu terdengar bunyi "sssh" dari mulut. Banyak orang melakukannya tanpa sadar. Banyak juga yang risih mendengarnya karena suaranya mengganggu, takut ada air liur menyiprat, dan terlihat kurang sopan. Artikel ini membahas dari sudut pandang kesehatan gigi: seberapa efektif kebiasaan ini, apakah berbahaya, dan apa alternatifnya.
Kenapa orang refleks mendesis?
Sisa makanan yang terjepit terasa sangat mengganggu. Menurut ulasan di The Standard, serpihan makanan menekan gusi dan jaringan sensitif, dan melepaskannya biasanya memberi kelegaan hampir seketika, sehingga mencungkil gigi jadi kebiasaan yang umum. Menyesep adalah cara paling praktis: tidak perlu alat, bisa dilakukan di mana saja, dan kadang memang berhasil menarik serpihan yang lunak.
Ini juga bukan tanda gigi yang tidak sehat. Orang dengan gigi rapat memang lebih sering kesulitan melepaskan sisa makanan, dan ini normal.
Seberapa ampuh sebenarnya?
Belum banyak penelitian yang secara khusus menguji kebiasaan menyedot sisa makanan dengan mulut, jadi gambaran berikut bersifat umum, bukan hasil studi.
- Cenderung berhasil untuk serpihan lunak yang tidak terlalu terjepit.
- Sering gagal untuk serat daging, sayur berserat, atau sisa yang terjepit di gigi yang rapat, karena kekuatan sedotan mulut terbatas.
- Hasilnya sulit diandalkan. Kalau gagal, orang biasanya beralih ke lidah, kuku, atau benda tajam, dan di situlah risiko mulai muncul.
Apakah berbahaya untuk gigi?
Menyesep sesekali tampaknya tidak bermasalah karena tidak ada alat tajam atau tekanan langsung ke gusi. Yang lebih berisiko adalah cara lanjutannya. Dokter gigi mengingatkan untuk menghindari dorongan memakai kuku, lidah, atau benda tajam karena bisa melukai gigi, gusi, dan lidah. Artikel di The Standard menambahkan bahwa cara-cara itu bisa melukai gusi, merusak enamel, atau menimbulkan luka kecil yang mengundang bakteri.
Membiarkan sisa makanan juga bukan solusi. WHO menyebut pembersihan sela gigi yang cermat adalah cara paling efektif mencegah penyakit gusi dan gigi berlubang.
Ada satu kondisi khusus: setelah cabut gigi, jangan menyedot atau memakai sedotan di area bekas cabutan, karena tekanan hisap bisa melepaskan gumpalan darah penyembuh dan berisiko dry socket. Kalau baru cabut gigi, ikuti arahan dari dokter gigi.
Soal air liur menyiprat dan suara yang mengganggu
Bagi sebagian orang, bunyi "sssh" di meja makan memang mengganggu. Ada yang khawatir percikan air liur ikut terbawa, ada juga yang merasa suaranya kurang enak didengar dan terlihat jorok. Keluhan ini wajar, apalagi saat makan bersama atau di ruang kerja.
Dari sisi kesehatan, desisan singkat umumnya hanya mengeluarkan sedikit udara dan cairan mulut, jadi risikonya kecil. Meski begitu, yang jadi persoalan sering kali bukan soal higienis atau tidaknya, melainkan soal kenyamanan orang di sekitar. Mulut yang terbuka sambil menyesep dan menarik serpihan di sela gigi memang bukan pemandangan yang enak dilihat saat sedang makan.
Alternatif yang lebih ampuh dan sopan
Ketimbang mendesis, ada beberapa cara yang lebih efektif mengeluarkan selilitan:
- Kumur air putih setelah makan. Cocok untuk serpihan lunak, tidak berisik, dan bisa dilakukan di toilet.
- Benang gigi (dental floss). Menurut The Standard, benang gigi lebih aman karena meluncur lembut di antara gigi dan mengurangi iritasi. Lengkungkan seperti huruf C mengitari gigi, lalu geser pelan naik turun.
- Sikat sela gigi (interdental brush) atau tusuk gigi halus, dipakai lembut. Sikat sela gigi berguna untuk celah yang lebih lebar.
- Tahan dulu sampai sempat ke toilet. Menunda beberapa menit lebih baik daripada mencungkil di depan orang.
- Sikat gigi dua kali sehari dengan pasta berfluoride, termasuk sebelum tidur.
Kapan perlu ke dokter gigi
Kalau sisa makanan selalu nyangkut di titik yang sama, jangan dianggap sepele. Dokter gigi mengingatkan bahwa makanan yang sering tersangkut bisa jadi pertanda masalah. Penyebabnya bisa gigi berlubang, tambalan yang kurang pas, atau gusi yang sudah menurun. Periksakan juga bila sisa makanan tidak bisa dikeluarkan, gusi berdarah, atau terasa nyeri.
Kesimpulan
Menyesep gigi bukan kebiasaan yang jelas berbahaya, tapi juga bukan cara yang bisa diandalkan. Kalau gagal, jangan lanjut ke kuku atau benda tajam. Pakai benang gigi atau sikat sela gigi, dan sedikit sopan santun, seperti menutup mulut atau pergi ke toilet, akan membuat orang di sekitar lebih nyaman.
Simak Video "Membangun Ekosistem Kesehatan Indonesia yang Lebih Kuat"
[Gambas:Video 20detik](nim/up)

























































