Bursa kripto terbesar di dunia, Binance kembali beroperasi usai pekan lalu diretas. Atas insiden tersebut, investor berbondong-bondong menarik dana hingga US$ 3,64 miliar atau Rp 65,98 triliun (kurs Rp 18.127) atau setara dengan 2,1% dari total aset mereka.
Binance menyatakan penarikan dana kini mulai stabil setelah sempat melonjak di awal. Sementara volume setoran (deposit) dari pengguna juga masih tergolong besar.
Binance, yang didirikan di China, memang telah membuka kembali layanan penarikan dana secara bertahap dengan memprioritaskan permintaan pengguna. Tahap pertama mencakup 15 token, termasuk Bitcoin, Ether, beberapa stablecoin USDC dan USDT, serta Dogecoin.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kami menggunakan pendekatan bertahap dengan memprioritaskan token berdasarkan data permintaan pengguna selama seminggu terakhir," tulis Binance dalam unggahan di akun X, dikutip dari Reuters, Senin (2/10/2026).
Terbesar Sepanjang Sejarah
Perampokan siber ini sendiri disebut-sebut oleh para analis sebagai pencurian finansial terbesar sepanjang sejarah. Berdasarkan data TRM Labs, aksi kejahatan siber terhadap aset kripto memang tengah marak, penjahat siber tahun lalu berhasil membobol US$ 2,9 miliar dari hampir 150 insiden.
Platform analisis kripto, DefiLlama menyampaikan laporan berbeda. Berdasarkan pantauan dasbornya, arus keluar dana (outflow) Binance justru jauh lebih besar yang menyentuh angka US$ 5,81 miliar. Angka ini melonjak dari estimasi sebelumnya di US$ 4,36 miliar.
Binance tidak langsung merespons permintaan terkait pembaruan angka tersebut. Juru Bicara Binance mengatakan angka tersebut tidak memperhitungkan perpindahan aset internal ke hot wallet baru milik perusahaan.
"Angka ini tidak memasukkan aliran dana yang kami setorkan ke hot wallet baru milik kami sendiri, sehingga datanya tidak akurat. Pembaruan terakhir kami di platform X adalah yang paling mendekati akurat (di luar pergerakan setoran dan penarikan sejak postingan itu dibuat)," tuturnya.
Binance memastikan telah mengganti 95% atau senilai US$ 6 miliar dari total US$ 6,3 miliar aset yang raib dicuri. Perusahaan menggunakan dana internal untuk membeli token pengganti. Sementara sisa 5% aset yang belum kembali terdiri dari instrumen yang kurang likuid sehingga membutuhkan waktu lebih lama.
Dalang Peretasan
FBI secara resmi mengumumkan unit siber asal Korea Utara yang disponsori negara, Trader Traitor, adalah penyebab di balik serangan brutal tersebut. Pemerintah Pyongyang selama ini konsisten membantah keterlibatan dalam aksi spionase maupun pencurian siber global. Kedutaan Besar Korea Utara di China maupun perwakilan mereka di Jenewa enggan memberikan tanggapan saat dikonfirmasi.
FBI mendeteksi anggota unit siber tersebut langsung mengonversi aset hasil curian ke dalam bentuk kripto Ether, serta memprediksi bakal ada upaya lanjutan menggunakan teknologi serupa. Namun, Presiden Amerika Serikat (AS) Donald Trump justru menyebut keterlibatan Korut masih belum sepenuhnya pasti.
"Kami belum tahu apakah ini ulah Korea Utara. Tetapi jika benar, kami akan membicarakannya dengan mereka," kata Trump melalui rekaman yang diunggah akun resmi Gedung Pimpinan AS di X.
Saksikan Live DetikPagi:
(rea/ara)




















































