Psikolog Rumah Sakit (RS) Hermina, Brigitta Tungawi mengingatkan orang tua (ortu) agar tidak memaksakan ekspektasi kepada anak. Dia mendorong orang tuauntuk memahami kebutuhan dan tahapan perkembangan anak sebelum menuntut pencapaian tertentu.
"Terkadang kita tidak melihat hal yang diharapkan anak. Orang tua takut dan khawatir anaknya tidak bisa. Tanpa sadar, terlalu fokus pada hal yang belum bisa dilakukan anak," ujar Brigitta dalam talkshow yang digelar Morinaga di Atrium Transquare, Trans Studio Mall (TSM) Makassar, Jumat, (06/11/2026).
Brigitta menilai kekhawatiran terhadap perkembangan anak merupakan hal yang wajar. Namun, orang tua perlu melihat kemampuan yang sudah dimiliki anak, bukan hanya kekurangannya.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap anak memiliki potensi yang berbeda. Kita sebagai orang tua saja tidak suka dibanding-bandingkan. Anak-anak juga punya perasaan dan bisa menangkap perasaan kekhawatiran kita," ujarnya.
Menurutnya, orang tua perlu mengubah cara pandang dalam mendampingi anak. Selain melihat kemampuan yang telah dimiliki, mereka perlu memahami hal-hal yang masih dapat dikembangkan.
"Jangan hanya bertanya, anak saya sudah bisa apa? Tetapi, apa yang perlu dikembangkan? Anak saya butuh dukungan apa?" jelasnya.
Kenali Potensi dan Kecerdasan Anak
Brigitta menyebut setiap anak memiliki potensi kecerdasan yang berbeda-beda. Menurutnya, terdapat sembilan jenis kecerdasan, yakni naturalistik, musikal, logis, eksistensial, interpersonal, kinestetik, linguistik, intrapersonal, dan spasial.
"Jadi tidak selamanya kecerdasan itu selalu akademik saja,"ungkapnya.
Karena itu, orang tua perlu mengamati minat dan kecenderungan anak melalui aktivitas sehari-hari. Ia juga mengatakan, mencoba berbagai kegiatan juga dapat membantu mengenali kemampuan yang menonjol tanpa memaksakan.
Ia mengingatkan bahwa setiap anak memiliki kebutuhan dan tahapan perkembangan masing-masing. Pencapaian anak lain tidak seharusnya menjadi tolok ukur dalam menilai perkembangan mereka.
"Setiap anak memiliki potensi yang berbeda," tuturnya.
Foto: Gayatri Resqi Wulandari Gani |
Brigitta mengatakan orang tua agar tidak terburu-buru memberi label negatif terhadap perilaku anak. Anak yang gemar mengacak-acak barang dan anak yang sering melompat atau bergerak aktif bisa jadi sedang mengeksplorasi lingkungan sekitarnya.
"Ternyata anak sulit untuk menyalurkan energinya, makanya kita perlu memfasilitasi anak untuk menyalurkan energinya," kata Brigitta.
Menurutnya, orang tua perlu memahami sudut pandang anak sebelum memberikan penilaian. Ia menjelaskan, label negatif yang terus diberikan dapat membuat anak takut melakukan kesalahan dan merasa tidak mampu.
"Jangan langsung melihat perilaku anak sebagai sesuatu yang nakal. Kita perlu mencoba memahami apa yang sedang anak lakukan dan apa yang ingin mereka eksplorasi," jelasnya.
Pentingnya Pendampingan Orang Tua dalam Tumbuh Kembang Anak
Brigitta menekankan pentingnya keterlibatan orang tua dalam mendampingi tumbuh kembang anak. Hal ini dapat dilakukan dengan mengamati, mendengarkan, bercerita, serta memberi kesempatan kepada anak untuk mencoba berbagai hal.
Ia menyarankan orang tua juga sebaiknya tidak selalu mengambil alih pekerjaan anak. Menurutnya, Ketika anak kesulitan mengenakan pakaian atau merapikan mainan, anak perlu diberi kesempatan untuk mencoba hal baru.
"Anak perlu diberikan kesempatan untuk mencoba. Orang tua mendampingi, bukan selalu mengambil alih apa yang sedang dikerjakan anak," ujarnya.
Sementara itu, Brand Manager Kalbe Nutrition, Betzylia Wahyuningsih, mengatakan ekspektasi yang terlalu tinggi dapat membebani anak. Perilaku yang dianggap nakal oleh orang tua belum tentu negatif, tetapi bagian dari proses perkembangan.
"Biarkan anak-anak berkembang dan bermain sembari didampingi. Biarkan mereka menjadi anak-anak dan berkembang sesuai dengan usianya," kata Betzylia.
Ia menjelaskan, Morinaga berkolaborasi dengan psikolog dari Universitas Indonesia untuk membantu orang tua mengenali potensi kecerdasan anak. Melalui kegiatan tersebut, anak diajak mengikuti berbagai permainan dan aktivitas untuk mengeksplorasi kemampuannya.
"Kami ingin membantu orang tua mengenali kecerdasan dan potensi yang dimiliki anak melalui berbagai permainan dan aktivitas," ujarnya.
(anl/ega)

























































