Ketegangan antara Iran dan Amerika Serikat (AS) kembali meningkat setelah sedikitnya dua rudal dilaporkan menghantam Pulau Qeshm di Selat Hormuz. Presiden AS Donald Trump menyebut Washington memang melancarkan serangan terbatas terhadap perangkat pertahanan udara milik Iran.
Insiden tersebut terjadi di tengah meningkatnya ancaman konflik baru antara kedua negara. Iran memperingatkan militernya kini lebih kuat dibandingkan saat perang dimulai pada akhir Februari 2026. Sementara itu, AS mengimbau warganya di Timur Tengah untuk meningkatkan kewaspadaan terhadap potensi serangan.
Dua Rudal Hantam Pulau Qeshm
Kantor berita Iran, Tasnim, melaporkan sedikitnya dua rudal menghantam Pulau Qeshm pada Sabtu (7/11/2026) waktu setempat. Laporan tersebut dikutip Reuters dan AFP. Televisi pemerintah Iran juga menyebut terdengar dua ledakan di pulau terbesar yang berada di Selat Hormuz itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Secara terpisah, kantor berita pemerintah IRNA melaporkan dua proyektil menghantam wilayah Suza di Pulau Qeshm. Keterangan saksi mata menyebut suara pesawat terdengar mengudara di atas pulau sebelum ledakan terjadi. Hingga laporan tersebut diterbitkan, belum ada informasi resmi mengenai kerusakan akibat serangan itu.
Sebelumnya, militer Iran menyatakan sistem pertahanan udaranya telah menghantam dan menghancurkan sebuah drone AS yang terbang di atas Pulau Qeshm pada Sabtu pagi.
Trump Akui Ada Serangan Terbatas
Presiden AS Donald Trump tidak secara langsung mengonfirmasi keterlibatan Washington dalam serangan rudal terbaru di Pulau Qeshm. Namun, dia mengakui AS telah melancarkan sejumlah serangan kecil terhadap Iran.
"Saya tidak ingin membahasnya. Kita memang melakukan serangan-serangan kecil," kata Trump saat ditanya wartawan mengenai serangan tersebut.
Trump juga mengklaim militer AS telah menghancurkan perangkat pertahanan udara buatan Iran dalam waktu singkat.
"Mereka (Iran-red) membangun semacam perangkat anti-pesawat. Dan kita melumpuhkannya dalam waktu sekitar 15 menit, mungkin lima menit," sebutnya.
Serangan terhadap Pulau Qeshm sebelumnya juga terjadi pada Senin (2/11). Seorang pejabat Washington saat itu menyebutnya sebagai serangan defensif dan menegaskan aksi tersebut tidak menandai dimulainya kembali operasi militer berskala besar.
Iran Klaim Militernya Lebih Kuat
Di tengah situasi tersebut, militer Iran memperingatkan bahwa kemampuan pasukannya kini lebih kuat dibandingkan saat perang melawan AS dan Israel dimulai pada akhir Februari 2026.
Juru bicara militer Iran Mohammad Akraminia mengatakan pasukannya telah memperoleh pengalaman dari konfrontasi langsung dengan kedua negara. Dia juga menyebut militer Iran berada dalam kondisi siaga lebih tinggi.
"Saat ini, Angkatan Bersenjata Republik Islam (Iran)... telah mendapatkan pengalaman dari konfrontasi langsung dengan Amerika Serikat dan rezim Israel, berada dalam tingkat kesiagaan yang lebih tinggi dan lebih kuat dibandingkan saat awal perang," tegas Akraminia dalam pernyataannya, seperti dikutip kantor berita pemerintah IRNA, Sabtu (7/11).
Akraminia juga menegaskan Iran masih memegang kendali atas Selat Hormuz. Jalur perairan strategis itu biasanya dilalui sekitar seperlima konsumsi minyak global. Teheran menyatakan jalur tersebut akan tetap ditutup hingga AS memenuhi tuntutan Iran.
"Atas perintah Pemimpin Tertinggi, respons Angkatan Bersenjata akan bersifat segera, efektif, dan tanpa batasan geografis," tegasnya.
Trump Ancam Lanjutkan Serangan ke Iran
Sebelum insiden di Pulau Qeshm, Trump telah memperingatkan kemungkinan dilakukannya operasi militer lanjutan terhadap Iran. Dia menyebut AS akan segera mengambil keputusan terkait kelanjutan perang.
Dalam pernyataannya kepada wartawan di Gedung Putih pada Kamis (5/11) waktu setempat, Trump mengatakan Iran telah mengalami kehancuran besar dan membutuhkan waktu lebih dari dua dekade untuk membangun kembali negaranya.
"Saya sebenarnya tidak ingin menghancurkan sisa-sisa negara tersebut jika memungkinkan, tetapi mungkin saya harus melakukannya. Dan Anda akan segera mengetahuinya," ucap Trump.
Pernyataan itu disampaikan setelah Trump menggelar pertemuan dengan para penasihat keamanan nasionalnya. Dia juga menyebut pemerintahannya masih menjalin komunikasi dengan perwakilan Iran.
AS Imbau Warganya Waspada di Timur Tengah
Meningkatnya ketegangan turut mendorong Departemen Luar Negeri AS mengeluarkan imbauan keamanan bagi warga negaranya yang berada di Timur Tengah. Imbauan tersebut dirilis pada Jumat (6/11) waktu setempat.
Otoritas AS meminta warganya meningkatkan kewaspadaan menyusul ancaman serangan bersenjata dari kelompok Houthi di Yaman yang didukung Iran. Washington juga menyinggung upaya Iran menargetkan pejabat dan personel pemerintah AS di kawasan tersebut.
"Warga Amerika yang saat ini berada di Timur Tengah harus meningkatkan kewaspadaan karena adanya peningkatan ancaman serangan bersenjata oleh kelompok Houthi yang didukung Iran, dan upaya-upaya Iran untuk menargetkan pejabat pemerintah AS di kawasan tersebut," demikian bunyi imbauan Departemen Luar Negeri AS melalui media sosial X.
Departemen Luar Negeri AS turut mengingatkan kemungkinan pembatalan penerbangan, penutupan wilayah udara, hingga gangguan perjalanan di kawasan Timur Tengah. Imbauan itu dirilis saat potensi serangan baru AS terhadap Iran masih membayangi situasi keamanan regional.





















































