Sejumlah papan iklan (billboard) digital LED di Mesir, Malaysia, Brasil, serta diduga di Irak dan China mendadak menayangkan video pornografi secara bersamaan.
Geng peretas di platform Telegram mengklaim bertanggung jawab atas operasi tersebut dan mengejek sistem keamanan pengelola yang dinilai sangat lemah hingga bisa dijebol dengan sangat mudah.
Insiden penayangan konten tidak senonoh ini memicu kehebohan di jalan-jalan utama di sejumlah negara:
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
- Mesir: Layar elektronik raksasa di jalan tol 26th of July Axis, Giza--salah satu jalur tersibuk penghubung Kairo--menayangkan video porno yang ditumpangi teks "Leaked by: Ch, 19ylegal never and nivex" dan handle Telegram @LeakersGov. Layar tersebut dikelola oleh Al Arabia United, perusahaan joint venture media intelijen Mesir dan perusahaan Arab Saudi.
- Malaysia: Majelis Perbandaran Kluang, Johor, mengonfirmasi bahwa beberapa layar LED publik milik mereka diretas untuk menampilkan konten vulgar. Pihak berwenang langsung mematikan seluruh layar dan kepolisian membuka penyelidikan.
- Brasil: Layar LED di jalan utama dekat BR-343 di Campo Maior, Piauí, turut menjadi korban. Perusahaan pengelola, Ferreira & Ferreira Publicidade e Comunicação, segera mematikan peralatan dan melaporkannya ke polisi.
- Irak dan China: Kelompok peretas juga mengklaim berhasil membobol sistem layar di kedua negara ini, meski bukti independen masih terus dikumpulkan.
Celah Keamanan Sederhana: Cuma Butuh 2 Jam
Kelompok di balik saluran Telegram Leakers$ mengungkapkan kepada media The Cairo Report bahwa mereka tidak meretas fisik papan iklan satu per satu, melainkan mengeksploitasi celah keamanan pada perangkat lunak pengirim konten ke layar LED.
Peretas menggunakan nama samaran Never, 19ylegal, CH, dan Nivex. Mereka mengidentifikasi ribuan sistem yang rentan hanya lewat pemindaian acak otomatis (automated random scan) selama kurang lebih dua jam.
"Ini adalah celah asli pada software yang bertanggung jawab mentransmisikan konten ke layar LED. Operasi ini sama sekali tidak serumit yang dibayangkan orang-orang. Perusahaan menghabiskan jutaan dolar untuk membangun infrastruktur di berbagai negara, tetapi meninggalkan layar LED dan jaringan iklan terhubung ke internet tanpa perlindungan dasar sama sekali," ungkap perwakilan peretas.
Kelompok tersebut menegaskan bahwa mereka tidak meminta uang tebusan, melainkan ingin membuktikan betapa rentannya infrastruktur publik yang terhubung ke internet.
Bukan Kejadian Pertama, Password Default Jadi Pemicu Utama
Kasus peretasan billboard digital bukan pertama kalinya terjadi di dunia siber:
- Brisbane, Australia (2022): Layar digital menampilkan video vulgar selama beberapa menit sebelum dimatikan.
- Jakarta, Indonesia (2016): Papan iklan digital (videotron) di kawasan Jakarta Selatan diretas dan memutar video porno Jepang akibat ulah peretas yang memanfaatkan celah akses.
- Baghdad, Irak (2023): Seluruh layar iklan elektronik di Baghdad dimatikan setelah seorang teknisi meretas layar di Alun-Alun Uqba bin Nafeh akibat perselisihan finansial.
Para pakar siber mencatat bahwa banyak insiden peretasan billboard terjadi akibat pengelola lupa mengubah password bawaan dari pabrikan pada antarmuka web mereka. Lembaga Out of Home Advertising Association of America (OAAA) bahkan secara khusus telah mengeluarkan panduan keamanan yang mewajibkan pengelola untuk tidak mengandalkan default password, demikian dikutip detikINET dari Gizmodo, Senin (2/11/2026).
Saksikan Live DetikSore :

















































