Kemudahan perjalanan menjadi salah satu harapan wisatawan Indonesia yang ingin berlibur ke Swiss. Namun, keinginan agar pemegang paspor Indonesia bisa berkunjung ke negara tersebut tanpa visa tampaknya belum bisa terwujud dalam waktu dekat.
Duta Besar Designate Swiss untuk Indonesia, Timor-Leste, dan ASEAN, Konstantin Obolensky, mengatakan belum ada rencana untuk memberikan fasilitas bebas visa bagi warga negara Indonesia. Menurutnya, biaya pengurusan visa hanya mengambil porsi kecil dari keseluruhan anggaran perjalanan ke Swiss.
Pernyataan tersebut disampaikan Obolensky dalam Switzerland Tourism Annual Media Briefing di Jakarta Selatan, Selasa (3/11/2026). Ia memahami persyaratan visa menjadi salah satu pertimbangan wisatawan Indonesia sebelum memutuskan berkunjung ke Swiss.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Pada akhirnya, biaya visa hanya mengambil porsi yang sangat kecil dari keseluruhan biaya perjalanan ke Swiss," kata Obolensky.
Meski begitu, persoalan visa bukan satu-satunya tantangan untuk menarik wisatawan Indonesia. Perjalanan ke Swiss saat ini juga semakin mahal akibat pelemahan rupiah terhadap franc Swiss serta kenaikan harga bahan bakar dan avtur yang berdampak pada biaya transportasi.
Kondisi tersebut ikut mempengaruhi kinerja pasar wisata Indonesia di Swiss. Data Switzerland Tourism mencatat jumlah malam menginap wisatawan Indonesia di Swiss mencapai 35.124 selama Januari-Agustus 2026.
Angka itu turun 38,7% dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya, yang mencapai 57.255 malam menginap.
Penurunan tersebut juga membuat posisi Indonesia merosot di antara pasar wisatawan Asia Tenggara. Obolensky menyebut Indonesia kini berada di posisi kelima dari lima negara Asia Tenggara yang diperhitungkan.
"Jika dibandingkan dengan lima negara di Asia Tenggara, sayangnya Indonesia saat ini berada di posisi kelima," ujarnya.
Padahal, sebelumnya Indonesia biasanya menempati posisi ketiga atau keempat sebagai pasar wisata Swiss di kawasan Asia Tenggara.
Secara keseluruhan, wisatawan dari Asia Tenggara mencatatkan 282.831 malam menginap di Swiss selama Januari-Agustus 2026. Jumlah itu turun 21,3% dibandingkan periode yang sama tahun lalu.
Singapura masih menjadi pasar terbesar dengan kontribusi 34,8% dari total malam menginap wisatawan Asia Tenggara. Thailand menyusul dengan 25,8%, kemudian Malaysia 17%, Filipina 11,4%, dan Indonesia 11%.
Kemudahan akses menjadi salah satu faktor yang membedakan pasar tersebut. Warga Singapura dan Malaysia, misalnya, dapat berkunjung ke Swiss tanpa visa untuk perjalanan singkat. Keduanya juga memiliki nilai tukar mata uang yang lebih kuat dibandingkan rupiah.
Sementara itu, wisatawan Indonesia masih harus mengurus visa sebelum berangkat. Belum tersedianya penerbangan langsung dari Jakarta ke Swiss juga membuat perjalanan membutuhkan transit di negara lain.
Swiss Berharap Ekonomi Indonesia Membaik
Di tengah penurunan pasar wisatawan Indonesia, Obolensky berharap kondisi perekonomian Indonesia membaik pada 2027. Dengan daya beli yang lebih kuat, ia berharap semakin banyak masyarakat Indonesia yang memiliki kesempatan untuk berlibur ke Swiss.
Switzerland Tourism tidak menetapkan angka khusus sebagai target kunjungan wisatawan Indonesia pada 2027. Fokus mereka adalah memperkenalkan destinasi Swiss dan menginspirasi masyarakat Indonesia untuk berkunjung.
"Kami tidak menetapkan target. Kami berada di sini untuk menginspirasi wisatawan Indonesia agar pergi ke Swiss dan menikmati keindahan negara kami," kata Obolensky.
Ia juga mengingatkan bahwa perjalanan wisata tidak hanya ditentukan oleh persyaratan visa. Nilai tukar, biaya penerbangan, akomodasi, dan pengeluaran selama berada di destinasi turut menjadi pertimbangan wisatawan.
Kunjungan wisatawan Indonesia ke Swiss sebelumnya sempat tumbuh pesat setelah pandemi COVID-19, terutama pada 2023 dan 2024. Saat itu, Swiss menjadi salah satu destinasi Eropa yang lebih awal membuka kembali akses bagi wisatawan.
Kini, tantangannya adalah mengembalikan minat wisatawan Indonesia di tengah meningkatnya biaya perjalanan. Sementara harapan mendapatkan kemudahan visa masih belum menemukan titik terang.


























































