Beberapa negara di Asia Tenggara yang berada di kawasan Sungai Mekong mulai melirik potensi sungai tersebut saat musim hujan tiba untuk meningkatkan kunjungan wisatawan.
Kamboja, Myanmar, dan Vietnam mulai menawarkan potensi alam, festival budaya, dan aktivitas lainnya sebagai daya tarik alternatif. Negara-negara itu juga mendorong wisata ramah lingkungan sekaligus memanfaatkan potensi desa agar masyarakat tetap mendapat penghasilan saat jumlah wisatawan menurun.
Mengutip Bernama, Jumat (23/10/2026) Menteri Pariwisata Kamboja, Huot Hak, mengatakan musim hujan justru menjadi waktu yang tepat untuk menikmati keindahan alam negaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Ini adalah waktu ketika Kamboja menampilkan keindahan alamnya yang paling asli dan semarak. Alam tumbuh subur, hamparan hijau membentang di seluruh negeri, udara bersih, dan pemandangan yang menakjubkan menciptakan pengalaman langka dan berharga bagi wisatawan," jelas Huot Hak.
Musim hujan di kawasan Mekong biasanya berlangsung pada Mei hingga Oktober. Pada periode itu, hutan akan kembali hijau, sawah mendapat pasokan air, dan sungai serta kolam yang sebelumnya kering mulai terisi. Kawasan pesisir juga menggelar berbagai festival budaya.
Pelaku pariwisata mulai menyesuaikan pilihan kegiatan dengan kondisi cuaca. Di Provinsi Quang Ninh, Vietnam utara, wisatawan bisa menikmati hiburan malam, festival, serta wisata pegunungan dan hutan. Sementara itu, Da Nang menawarkan wisata kota, resor, hiburan, dan budaya sebagai alternatif saat cuaca tidak mendukung aktivitas di pantai, seperti dilaporkan Vietnamnet.
Wakil Ketua Asosiasi Pariwisata Hanoi, Nguyen Tien Dat, mengatakan wisata musim hujan bukan berarti mengajak wisatawan mendatangi tempat berbahaya. Menurutnya, pelaku wisata perlu menyesuaikan kegiatan dengan cuaca.
"Hujan bisa menjadi kesempatan untuk mengunjungi museum, menjelajahi situs warisan budaya, menikmati wisata kuliner dan kebugaran, serta mengunjungi desa seni atau kerajinan. Wisata pantai juga bisa diganti dengan tur kota, perjalanan alam, dan kegiatan budaya bersama masyarakat setempat," ujar Tien Dat.
Selain pilihan kegiatan yang beragam, musim sepi juga menawarkan harga lebih murah dan tempat wisata yang tidak terlalu ramai. Situs pariwisata Vietnam menyebut biaya perjalanan selama musim hujan bisa turun 30-50%.
Sebagai gambaran, harga hotel butik di Hoi An yang mencapai 90 USD (Rp 1,4 juta) pada Februari bisa turun menjadi 35 USD (Rp 550 ribu) pada Oktober. Tarif kapal pesiar di Teluk Ha Long juga bisa lebih murah hingga 40%.
Selain itu, Myanmar turut mempromosikan wisata musim hujan dengan mengandalkan keindahan alamnya. Menurut media pemerintah mereka, The Global New Light of Myanmar, sebagian besar hotel di Hpa-an, ibu kota Negara Bagian Kayin, penuh dipesan saat wisatawan domestik datang untuk menikmati pemandangan alam kawasan tersebut.
Tren tersebut juga didorong wisatawan generasi Z dan milenial yang cenderung peduli terhadap lingkungan, memperhatikan anggaran, dan menyukai petualangan.
Pengembangan wisata di kawasan Mekong diharapkan tidak hanya mendatangkan pengunjung, tetapi juga membantu ekonomi masyarakat. Perajin, pemilik penginapan, pemandu, penyedia sewa kendaraan, petani, dan seniman tradisional bisa memperoleh penghasilan dari kegiatan pariwisata.
Meski membuka lapangan kerja dan menggerakkan ekonomi, pariwisata juga menyumbang 7,3% emisi gas rumah kaca global, menurut World Travel and Tourism Council. Karena itu, pengembangan wisata yang lebih ramah lingkungan diharapkan dapat mengurangi dampak terhadap lingkungan sekaligus memberi manfaat bagi masyarakat setempat.


























































