Tidak semua mobil listrik dilirik pedagang mobil bekas. Kondisi itu tergantung dari baterai mobil listriknya.
Mobil listrik mulai meramaikan pasar mobil bekas. Tapi, tidak semua pedagang mobil bekas mau mengambil mobil listrik untuk dijual kembali. Salah seorang pedagang mobil bekas di kawasan MGK Kemayoran bernama Yogi mengungkap, baterai menjadi salah satu faktor penentu bagi pedagang mobil bekas.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Minimal 90 persen, kalau di bawah itu kita nggak ngambil," kata Yogi saat berbincang dengan detikOto belum lama ini.
Dari sekian banyak mobil listrik yang dijual, menurut penuturan Yogi salah satu yang cukup diburu berasal dari BYD.
"Contoh kayak Atto 1, BYD Seal, berbagai merek sih, (paling banyak) BYD," sebutnya lagi.
Dia juga menambahkan bahwa baterai menjadi salah satu hal yang mempengaruhi harga jual kembali mobil listrik. Kalau kondisi baterai sudah tak prima, tentu harga jualnya juga bisa terjun bebas. Di sisi lain, harga jualnya juga lebih merosot ketimbang mobil konvensional.
Sebelumnya, Direktur OLXmobbi, Agung Iskandar menjelaskan, ada dua alasan utama mengapa harga mobil listrik bisa 'terjun bebas' di Indonesia. Pertama, kata dia, kemunculan produk-produk baru yang jauh lebih canggih dan murah.
"Turunnya lumayan. Sekarang strategi pabrikan kan berbeda. Misalnya, untuk 2 ribu unit pembelian pertama dapat harga spesial. Jadi susah ya," ujar Agung beberapa waktu lalu.
Kedua, kata dia, karena kondisi baterai yang terus menurun dari tahun ke tahun. Belum lagi, tambahnya, garansinya hangus ketika kendaraan berpindah tangan. Kondisi itu yang membuat harga mobil listrik terus merosot dari tahun ke tahun.
"Terus masalah garansi baterai. Beberapa mobil listrik garansi baterainya akan hangus kalau unitnya pindah tangan. Kita lihat hambatannya begitu," ungkapnya.






















































