Sebuah bus yang dilengkapi tabung oksigen menjadi tempat perlindungan sementara bagi warga di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah. Warga mengalami gangguan pernapasan akibat kabut asap yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan (karhutla), sementara kebakaran masih terus berlangsung.
Indonesia secara rutin menghadapi kebakaran hutan musiman, terutama di Pulau Sumatera dan Kalimantan. Namun, tahun ini, kebakaran tersebut menjadi yang paling parah dalam lebih dari satu dekade terakhir. Fenomena cuaca El Nino yang intens telah meningkatkan suhu udara, membuat hutan dan lahan gambut yang luas di Indonesia semakin rentan terbakar. Kebakaran ini menyebabkan langit berubah menjadi jingga di sejumlah wilayah Indonesia, Malaysia, dan Singapura.
Seiring meningkatnya kasus penyakit pernapasan di Kota Palangka Raya, pemerintah daerah menyediakan layanan bus oksigen yang dilengkapi tabung oksigen dan tenaga medis. Melalui layanan ini, warga dapat memperoleh bantuan oksigen dengan menggunakan selang kecil yang dipasang di hidung selama 5 hingga 10 menit setiap kali sesi.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Layanan ini ditujukan untuk membantu masyarakat mendapatkan akses oksigen, khususnya mereka yang mengalami gangguan pernapasan atau membutuhkan bantuan oksigen di tengah kondisi kualitas udara yang tidak sehat," kata Dinas Kesehatan Provinsi Kalimantan Tengah melalui Instagram pekan ini, dikutip Reuters.
Indeks polusi udara di Indonesia menunjukkan bahwa sejumlah wilayah di Kalimantan dan Sumatera mencatat tingkat polusi lebih dari 1.000. Padahal, angka 300 atau lebih sudah masuk kategori berbahaya.
Kementerian Kesehatan melaporkan bahwa kasus penyakit pernapasan yang berkaitan dengan kebakaran meningkat hingga sekitar 350.000 kasus pada periode Agustus hingga 25 Oktober. Di Kalimantan Tengah, jumlah kasus tercatat sekitar 31.000 hingga 25 Oktober.
"Ini adalah bencana alam dan tidak banyak yang bisa kami lakukan," kata Oktawina (44 tahun) saat menerima bantuan oksigen dengan selang yang terpasang di hidungnya.
Petugas medis di dalam bus berwarna putih dan biru mencatat data pasien serta memberikan oksigen kepada warga yang mengeluhkan kesulitan bernapas. Salah seorang petugas mengatakan, sebagian besar warga yang datang ke bus tersebut mengalami batuk atau kesulitan bernapas.
"Kalau akhir-akhir ini saya keluar rumah, saya merasa sesak dan batuk. Karena pagi ini asapnya tebal dan kekuningan, jadi napas saya terasa sesak." kata salah satu warga, Purnasari (31 tahun).

























































