Jakarta Running Festival (JRF) 2026 menjadi sorotan setelah beredar kabar adanya peserta yang mengalami henti jantung mendadak (cardiac arrest) saat mengikuti ajang lari tersebut.
Henti jantung atau cardiac arrest merupakan kondisi darurat medis ketika jantung tiba-tiba berhenti memompa darah secara efektif. Rumor ini mencuat lantaran beberapa orang salah paham saat ada yang menuliskan heatstroke dengan 'heart stroke'.
"Ya heatstroke (di JRF 2026). Cardiac arrest nggak ada. Salah itu informasi di media sosial (bahwa ada yang henti jantung)," kata Medical Director JRF 2026 dr Andi Kurniawan, SpKO kepada detikcom, Selasa (27/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
dr Andi menambahkan bahwa serangan panas ini banyak menelan korban baik di hari pertama kategori 5K dan Half Marathon, dan hari kedua kategori 5K dan Full Marathon.
Apa Penyebab Heatstroke Saat Lari?
Selama ini, cuaca panas kerap dianggap sebagai penyebab utama heatstroke. Padahal, risiko kondisi ini juga dipengaruhi oleh intensitas olahraga, kondisi tubuh, hingga kebiasaan pelari saat beraktivitas.
Dihubungi terpisah, Praktisi kebugaran, dr Maria Lestari, B.Med.Sc, P.G.Dip.SEM, SpKO mengatakan bahwa heatstroke saat race bukanlah sekadar tubuh kepanasan. Ini merupakan kondisi emergency yang perlu mendapat perhatian segera.
Dikutip dari Threads dr Maria, berikut faktor-faktor lain yang bisa memicu heatstroke, selain cuaca panas ekstrem.
- Pace terlalu agresif
- Humidity tinggi (kelembapan)
- Dehidrasi
- Kurang heat acclimatization
- Kurang tidur
- Start terlalu siang
- Ego race day
dr Maria menambahkan bahwa heatstroke merupakan masalah kesehatan yang memerlukan perawatan cepat dan tepat.
"Saya juga ingin menekankan bahwa heatstroke berbeda dengan kelelahan biasa, dehidrasi ataupun kram otot," kata dr Maria saat dihubungi detikcom, Selasa (27/10/2026).
"Exertional heatstroke merupakan kegawatdaruratan medis yang terjadi ketika tubuh mengalami peningkatan suhu inti secara ekstrem disertai gangguan sistem saraf pusat, kayak kebingungan, perubahan perilaku, penurunan kesadaran, sampai kejang," sambungnya.
Dirinya menambahkan pada heatstroke, prioritas utama adalah mengenali kondisi sedini mungkin dan melakukan pendinginan tubuh secara cepat, dengan cold-water immersion sebagai metode yang paling efektif jika tersedia.
"Karena itu, sangat penting agar setiap penyelenggaraan lomba lari memiliki protokol penanganan heat illness, petugas medis terlatih, dan sarana pendinginan yang memadai," tegasnya.
"Kita perlu memahami bahwa tidak semua pelari yang kolaps mengalami dehidrasi, dan tidak semua keluhan saat race dapat ditangani hanya dengan minum elektrolit, menyemprotkan painkiller, atau beristirahat sebentar," tutupnya.
Saksikan Live DetikPagi:

























































