Pemerintah melalui Kementerian Sosial (Kemensos) memperingati satu tahun kehadiran Sekolah Rakyat (SR) dan Sumpah Pemuda. Satu tahun ke belakang, SR telah memberikan kesempatan bagi lebih dari 45 ribu siswa jenjang SD, SMP, dan SMA.
SR hadir dengan tujuan memutus rantai kemiskinan melalui penyediaan akses pendidikan yang merata dan berkualitas. Siswa-siswi yang bersekolah di SR berasal dari keluarga miskin dan miskin ekstrem (desil 1 dan desil 2).
Mereka memiliki latar belakang dengan pekerjaan orang tua yang beragam. Salah satunya, Jumaroh murid SR asal Bekasi, Jawa Barat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Jumaroh merupakan seorang putri dari orang tua yang bekerja sebagai pemulung. Tak hanya Jumaroh, ada juga Raihan asal Makassar.
Sebagai anak dari penangkap ikan dan montir, Raihan lihai menggunakan jaring ikan untuk membantu orang tuanya. Kemiskinan yang ada secara nyata, menurut Kemensos tentu membatasi mimpi anak-anak bangsa.
"Kemiskinan melahirkan ketakutan, menggerogoti keberanian secara perlahan. Membuat mimpi terasa jauh," ungkap Kemensos dalam tayangan Peringatan 1 Tahun Sekolah Rakyat (SR) yang ditayangkan secara daring melalui YouTube Kemensos RI, Rabu (28/10/2026).
Kemensos menemukan banyak anak-anak di Indonesia tumbuh dengan langkah tertahan karena masalah ekonomi. Akibatnya, pendidikan terkadang menjadi beban yang sulit digenggam.
Hal itu juga terjadi pada Alfius, siswa SR asal Jayapura. Kemiskinan membuatnya harus ikut membantu orang tua untuk menjual sayuran dan pinang, di saat seharusnya ia bersekolah.
Namun, harapan mengenyam pendidikan di sekolah yang bagus dan berkualitas kini bukan angan-angan belaka. Jumaroh, Raihan, dan Alfius bisa mengurangi beban dengan menempuh pendidikan di Sekolah Rakyat.
"Namun, harapan tak pernah benar-benar padam. Cahaya baru mulai menampakkan sinar. Sekolah Rakyat hadir sebagai asa yang berpijar, menerangi jalan dan membuka kesempatan," ungkap Kemensos.
Kehadiran SR mulai menyinari langkah-langkah kecil anak-anak bangsa seperti Sofia asal Kupang dengan pekerjaan orang tua buruh tani, Zahra asal Banjarmasin dengan pekerjaan orang tua tukang becak, dan Fajri dari Solok yang berasal dari keluarga buruh peternakan.
Seluruh siswa ini menempuh pendidikan gratis secara penuh di SR terdekat dengan lokasi masing-masing. Pendidikan gratis ini mencakup biaya sekolah, tempat tinggal, makan, hingga perlengkapan sekolah.
Sistem berasrama memungkinkan siswa mendapat pendampingan secara penuh. Tak hanya akademik, karakter dan mental siswa juga digodok selama bersekolah di SR.
Tak hanya itu, orang tua siswa juga mendapat bantuan sosial. Kemensos juga menjamin kesehatan dan pemberdayaan ekonomi keluarga siswa melalui berbagai program bantuan sosial.
"Menyinari langkah dengan penuh keberanian dalam memutus rantai kemiskinan melalui pendidikan. Sekolah Rakyat memuliakan wong cilik memungkinkan yang tidak mungkin menjangkau yang belum terjangkau, membuka ruang belajar yang setara bagi semua. Pintu kini telah terbuka, mimpi sudah kembali menemukan jalannya mempertemukan ilmu dengan para pencarinya," tegas Kemensos.






























































