Pembelajaran Jarak Jauh (PJJ) akibat kabut asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih berlangsung di Kota Balikpapan, Kalimantan Timur. Kebijakan ini juga berlaku bagi siswa Sekolah Luar Biasa (SLB).
Kepala SLB Tunas Bangsa Kota Balikpapan Yuliatin Chasanah mengatakan pihaknya membutuhkan penyesuaian pembelajaran agar siswa tetap dapat mengikuti kegiatan belajar dari rumah. Terlebih, setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda.
"Anak-anak SLB sendiri terkadang sulit dikondisikan untuk duduk tenang. Terutama anak dengan autisme berat yang masih membutuhkan bantuan untuk melakukan aktivitas sehari-hari," ujarnya Yuliatin, Rabu (28/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Metode pembelajaran turut menyesuaikan kondisi siswa dan kemampuan orangtua pendamping. Jika memungkinkan, siswa mengikuti kelas virtual sebagaimana yang diterapkan dalam metode PJJ.
"Kalau memungkinkan, pembelajaran dilakukan melalui Zoom. Jika tidak, guru membagikan tugas melalui grup WhatsApp atau tautan yang berisi permainan edukatif," ungkap Yuliatin.
Penyesuaian ini juga diterapkan pada mata pelajaran yang membutuhkan aktivitas fisik. Pada mata pelajaran olahraga, guru memberikan video pendek yang harus ditirukan siswa, kemudian hasilnya dikumpulkan dalam bentuk rekaman video.
"Kalau pelajaran olahraga itu gurunya memberikan video pendek, kemudian siswa harus menirukan, dan hasilnya dikumpulkan dalam bentuk video," bebernya.
Kebutuhan tugas juga dirancang sedemikian rupa tanpa memberatkan siswa maupun orangtua. Tugas yang bisa dilakukan di rumah, seperti menyiram tanaman dalam kegiatan cinta lingkungan.
"Kami sesuaikan kalau tugas, misalnya dengan mengajak siswa untuk menyiram tanaman sebagai bentuk kegiatan cinta lingkungan," kata Yuliatin.
Sejumlah aktivitas masih dapat dilakukan secara mandiri dengan pendampingan keluarga. Seperti kegiatan membatik, meronce, dan membuat kreasi dari bahan-bahan alam.
"Kegiatan tersebut menjadi alternatif praktik yang bisa disesuaikan dengan kemampuan siswa," ucapnya.
Kendati begitu, tidak semua praktik vokasional dapat dilakukan dari rumah. Keterampilan seperti musik, tata kecantikan, dan pembuatan suvenir membutuhkan kegiatan praktik yang tidak seluruhnya bisa diberikan melalui pembelajaran jarak jauh.
"Ada beberapa kegiatan yang tidak memungkinkan dilakukan dalam penerapan PJJ, misalnya musik, tata kecantikan, dan pembuatan suvenir," imbuhnya.
Kebutuhan pendampingan menjadi salah satu tantangan selama penerapan PJJ. Untuk itu, guru menyesuaikan tugas dengan kemampuan anak serta situasi keluarga masing-masing.
"Orang tua diharapkan bisa hadir penuh dalam pendampingan. Namun, kami memahami kondisi mereka sehingga pelaksanaan dan pengumpulan tugas tetap fleksibel," tutur Yuliatin.
Dalam hal ini, sekolah memberikan kelonggaran waktu pengumpulan tugas siswa. Upaya ini dimaksimalkan bagi keluarga yang mengalami kesulitan membagi waktu antara bekerja dan mendampingi anak.
"Kalau tugas belum bisa diselesaikan hari ini karena orang tua bekerja, mungkin besok baru mereka mengumpulkan. Kami memberikan kelonggaran waktu," tandasnya.
Yuliatin berharap kondisi asap segera membaik sehingga siswa dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar (KBM) tatap muka di sekolah. Pasalnya, setiap anak memiliki kebutuhan belajar yang berbeda-beda.
"Kami berharap persoalan asap ini segera selesai, karena anak-anak pada dasarnya membutuhkan pembelajaran dan aktivitas di sekolah," pungkasnya.
Diketahui, SLB Tunas Bangsa melayani 85 peserta didik dari jenjang SDLB, SMPLB, hingga SMALB. Selain itu, terdapat 20 guru dan tenaga kependidikan untuk melayani peserta didik.
Sekolah tersebut melanjutkan PJJ setelah melihat kondisi udara dan tingkat kehadiran siswa yang menurun. SLB Tunas Bangsa sebelumnya mencoba pembelajaran daring pada 22-23 Oktober pekan lalu, kemudian meneruskannya mulai Senin (26/10) hingga informasi lanjutan.

Koleksi Pilihan
Kumpulan artikel pilihan oleh redaksi detikkalimantan































































