Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Toraja Utara, Sulawesi Selatan, tak hanya menghanguskan vegetasi. Api juga merusak situs kuburan batu atau liang yang menjadi bagian dari warisan budaya masyarakat Toraja.
Menteri Kebudayaan (Menbud) Fadli Zon mengatakan pihaknya akan menurunkan tim untuk mendata tingkat kerusakan sekaligus menyiapkan langkah pemulihan situs tersebut.
"Tentu ini sesuatu yang sangat memprihatinkan dan kita sedang mengumpulkan juga nanti data-datanya yang terkait hal ini apa yang bisa kita lakukan di dalam pemulihannya, restorasinya," ujar Fadli Zon kepada wartawan di Makassar, Selasa (27/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Fadli, penyebab kebakaran masih perlu dipastikan. Secara umum, kebakaran dapat terjadi akibat aktivitas manusia maupun kondisi alam yang mendukung munculnya api.
"Memang kebakaran ini kan tentu bisa disebabkan dua hal. Satu karena ulah manusia yang melakukan dengan kesengajaan. Saya kira ini satu tindakan kriminal yang sangat biadab, merusak," kata dia.
Di sisi lain, ia menyebut kondisi alam juga dapat meningkatkan risiko kebakaran. "Tapi ada juga yang karena faktor alam yang memang dipicu karena El Nino yang panjang sehingga bisa memercik atau memicu kebakaran," kata dia.
Fadli memastikan situs budaya yang terdampak akan diinventarisasi. Pendataan tersebut menjadi dasar untuk menentukan langkah perbaikan atau pemulihan berikutnya.
"Kalau ada situs-situs yang terdampak, kita akan lakukan inventarisasi dan nanti bagaimana revitalisasi atau restorasi terhadap situs-situs tersebut," kata dia.
Kebakaran terjadi di Dusun Salurea Rangri, Kelurahan Baruppu Utara, Kecamatan Baruppu, Toraja Utara. Api dilaporkan berkobar sejak Jumat (23/10) hingga Sabtu (24/10).
Salah satu kawasan yang terdampak berada di tebing yang menjadi lokasi kuburan batu. Kepala Satpol PP dan Damkarmat Toraja Utara, Riantho Yusuf Sangkelo, mengatakan terdapat belasan hingga puluhan liang di tiga titik berbeda.
"Itu kuburan namanya liang. Jadi ada belasan atau puluhan liang itu karena tiga titik yang berbeda tempatnya. Sempat ada itu (peti terbakar)," kata Riantho kepada detikSulsel, Minggu (25/10).
Dugaan sementara, kebakaran tersebut bukan semata akibat faktor alam. Riantho mengatakan warga sempat melihat seseorang berada di lokasi dan diduga memicu api sebelum melarikan diri.
"Penyebabnya itu ada sempat orang yang melihat membakar. Artinya mungkin iseng atau apa, tapi dikejar sama belum diketahui pasti sama masyarakat siapa," kata dia.
Kebakaran itu kini menjadi perhatian karena menyentuh kawasan yang tidak hanya memiliki nilai sejarah dan budaya, tetapi juga menjadi bagian dari identitas masyarakat Toraja. Pemerintah berencana memastikan kondisi situs terlebih dahulu sebelum menentukan bentuk pemulihan yang diperlukan.
(fem/fem)



























































