Di Kota Lama Kudus, terdapat sebuah menara masjid yang memiliki gapura kuno di sekitarnya. Peninggalan arsitektur ini diperkirakan telah hadir sejak masa pra-Islam. Namun, asal usul jelasnya belum diketahui hingga kini.
Hal tersebut diungkapkan pakar dari Universitas Islam Negeri Kudus, Prof Moh Rosyid dalam webinar yang diselenggarakan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional (BRIN).
"Penentuan kronologi menjadi persoalan penting dalam memahami sejarah sejumlah tinggalan arsitektur di kawasan tersebut. Hingga kini, belum diperoleh data ilmiah yang secara jelas memastikan kapan Menara masjid Al-Aqsa dan gapura kembar kuno didirikan," katanya dikutip dari BRIN, Kamis (1/10/2026).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Selain gapura, terdapat kori atau pintu kembar dan berbagai ornamen kuno lainnya yang diperkirakan telah hadir sebelum Islam hadir di tanah Jawa. Sejumlah bangunan ini memiliki unsur arsitektur yang menarik dalam kajian mengenai jejak masa pra-Islam dan dikaitkan dengan periode awal Islam di Kudus pada abad ke-16.
Salah satu hambatan yang dihadapi saat meneliti asal-usul bangunan kuno ini adalah renovasi yang mengubah bangunannya. Menara Masjid Al-Aqsa, telah mengalami renovasi sebanyak empat kali. Sehingga kondisi fisiknya tidak sepenuhnya mencerminkan sejarah terbentuknya.
Kurangnya data ilmiah mengenai situs-situs kuno ini turut berkontribusi dalam berkembangnya tradisi lisan di masyarakat. Karenanya, diperlukan penelitian arkeologi lebih lanjut untuk memperoleh data ilmiah, alih-alih memperkirakan dengan patokan waktu kedatangan Islam di Nusantara.
"Semua ini masih perlu mendapatkan perhatian para arkeolog, terutama Menara Masjid Al-Aqsa Kudus, kapan didirikan agar generasi hari ini dan generasi mendatang tercerahkan," kata Prof Rosyid.
Baca juga: Facebook Bonuses Myr Bosskumy Is You With |
Ketua Perkumpulan Ahli Arkeologi Indonesia (IAAI) Marsis Sutopo menjelaskan pentingnya memahami nilai yang dikandung dalam bangunan peninggalan tersebut.
Sebagian peninggalan arkeologi yang tersebar di seluruh penjuru Indonesia telah ditetapkan menjadi cagar budaya. Oleh karena itu, memahami nilai sejarah, arsitektur, ilmu pengetahuan, budaya, dan agama, dari suatu peninggalan merupakan salah satu hal penting yang dapat diwariskan kepada generasi mendatang.
Kepala Organisasi Riset Arbastra BRIN, Herry Jogaswara, menyebutkan pelacakan asal-usul arsitektur kuno ini justru bisa menjadi kesempatan untuk melakukan penelitian kolaboratif karena sejatinya peninggalan ini merekam dinamika sosial, ekonomi, politik, dan budaya masyarakat masa lampau.
"Webinar ini menjadi ajang untuk kita bisa melakukan kegiatan kolaborasi riset terkait dengan tema tinggalan arkeologi kolonial dan multikulturalisme," tuturnya.
Ia juga menekankan bahwa riset arkeologi dan sosial humaniora tetap perlu diperhatikan dalam agenda riset nasional.
Masjid Al-Aqsa Menara Kudus
Masjid ini didirikan pada 1549 M atau 956 H dan berdiri di tanah seluas 5.505 m2. Dikutip dari detikHikmah, salah satu ciri khasnya adalah peletakan batu pertama yang berasal dari Baitul Maqdis, Palestina. Hal ini juga menjadi alasan penamaan masjid tersebut.
Masjid ini dibangun oleh Sunan Kudus, salah satu tokoh wali songo, yang saat itu berdakwah di tanah Jawa. Dalam praktiknya, masjid ini digunakan sebagai tempat ibadah sekaligus menyebarkan agama Islam di Kudus.
Masjid Al-Aqsa ini menjadi salah satu bentuk pendekatan Sunan Kudus dengan masyarakat lokal, yang terlihat dari arsitektur bangunan masjid yang menyerupai bentuk candi. Terdiri dari tiga bagian utama yaitu kaki masjid, badan masjid, dan puncak masjid.
Bangunan masjid ini memiliki tinggi 17 meter dan dikelilingi oleh 32 piringan bergambar sebagai ornamen. Di bagian badan dan kaki masjid, terdapat pula ukiran dan pahatan dengan motif Hindu-Jawa, yang memperlihatkan pengaruh kebudayaan lokal.































































