Belakangan, kondisi rhabdomyolysis kerap menjadi perhatian publik di berbagai negara. Di Korea Selatan, kasus ini dialami oleh seorang pria bernama Ryu (40).
Niat hati ingin menghempaskan perut buncit dengan olahraga, ia malah dilarikan ke rumah sakit akibat nyeri otot hebat di bagian kaki. Tak hanya itu, warna urinenya juga berubah menjadi cokelat tua tepat sehari setelah Ryu nekat mengikuti latihan marathon.
Setelah diperiksa dokter, Ryu didiagnosis mengidap rhabdomyolysis. Itu merupakan kondisi medis serius sel-sel otot meluruh dan hancur akibat tekanan atau beban fisik berlebihan.
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya pikir saya masih bisa berlari sekuat masa kecil dulu. Karena sudah lama tidak olahraga dan langsung memaksakan diri, saya malah masuk rumah sakit," kata dia yang dikutip dari laman Chosun.
"Tidak menyangka harus mengalami ini lagi di usia 40-an," tambahnya.
Seiring berkembangnya tren olahraga berat seperti maraton, spinning, hingga functional training, angka pasien rawat inap akibat rhabdomyolysis melonjak. Angkanya mencapai 32,3 persen dalam empat tahun terakhir.
Berdasarkan data Health Insurance Review and Assessment Service Korea Selatan, jumlah pasien rawat inap akibat kerusakan jaringan otot ini naik dari 3.619 orang pada 2021 menjadi 4.788 orang. Mirisnya, lebih dari separuh pasien rawat inap tersebut didominasi oleh kelompok usia muda 20-an dan 30-an.
Kenapa Olahraga Berat Bisa Mengganggu Fungsi Otot dan Ginjal?
Rhabdomyolysis terjadi saat jaringan otot rangka mengalami kerusakan parah akibat aktivitas fisik ekstrem atau infeksi. Saat otot bermasalah, isi sel otot, termasuk protein myoglobin, terlepas dan mengalir deras ke dalam pembuluh darah.
Masalahnya, protein berlebih ini menjadi racun bagi ginjal karena dapat menyumbat dan merusak saluran penyaringan. Jika tidak segera ditangani dengan terapi cairan intensif, pasien bisa mengalami gagal ginjal akut.
Jika kondisinya makin parah, bisa membutuhkan tindakan cuci darah (dialisis) hingga memicu kematian. Gejala khas yang perlu diwaspadai antara lain:
- Nyeri otot hebat dan rasa lemas yang tak wajar.
- Pembengkakan parah pada area otot yang dilatih hingga sulit bergerak.
- Perubahan warna urine menjadi cokelat tua menyerupai warna teh pekat.
Tren Minat Terhadap Olahraga Intensitas Tinggi
Pakar Kedokteran Darurat dari Rumah Sakit Yongin Severance, Prof Lee Kyung-won, menilai menjamurnya tren olahraga intensitas tinggi bisa memicu kasus ini. Terlebih bagi yang tidak terbiasa atau baru pertama kali menjalaninya.
"Popularitas itu membuat banyak orang tergiur mencoba latihan intensitas tinggi, yang sebenarnya belum pernah mereka lakukan. Akibatnya, banyak yang berakhir di IGD karena memaksakan diri melampaui batas kemampuan tubuh," jelasnya.
Senada dengan hal itu, pakar Nefrologi dari Rumah Sakit Mokdong Universitas Wanita Ewha, Prof Yoo Mi-jeong, mengingatkan bahwa melakukan aktivitas tersebut persiapan memadai sangat berbahaya.
Tak cuma maraton, latihan beban (strength training) berlebihan pun bisa menjadi pemicunya. Para ahli mengimbau agar siapa pun yang ingin memulai olahraga selalu memperhatikan prinsip bertahap dan mendengarkan kondisi tubuh.
"Jika area otot yang dilatih mendadak bengkak parah atau warna kencing berubah cokelat seperti kola, jangan ditunda, segera datang ke fasilitas medis terdekat," pungkas Prof Yoo Mi-jeong.

























































