Siswa di Kota Palangka Raya, Kalimantan Tengah, kemungkinan akan kembali mengikuti pembelajaran tatap muka (PTM) di sekolah. Pemerintah Kota (Pemko) Palangka Raya tengah mengevaluasi kemungkinan pembukaan kembali sekolah setelah kondisi cuaca dalam beberapa hari terakhir menunjukkan perbaikan.
Wakil Wali Kota Palangka Raya Achmad Zaini mengatakan Dinas Pendidikan tengah melakukan evaluasi dan berkoordinasi untuk menilai kesiapan sekolah melaksanakan pembelajaran secara langsung. Menurutnya, kondisi cuaca menjadi salah satu faktor penting dalam menentukan kelanjutan kebijakan pembelajaran di tengah situasi yang sebelumnya mengganggu aktivitas pendidikan.
"Kalau misalnya baik, cuacanya seperti hari ini ya, tidak menutup kemungkinan nanti pembelajaran bisa tatap muka kembali," ujar Zaini, Rabu (28/10/2026).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Meski peluang PTM kembali terbuka, Pemko Palangka Raya belum ingin mengambil keputusan secara terburu-buru. Pemerintah masih memantau perkembangan cuaca untuk memastikan kegiatan belajar di sekolah dapat berlangsung dengan aman.
"Koordinasi dengan Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) juga dilakukan untuk mendapatkan informasi mengenai prakiraan cuaca dalam beberapa waktu ke depan," katanya.
Zaini menjelaskan, data dan prediksi cuaca dari BMKG akan menjadi salah satu dasar pertimbangan sebelum pemerintah menetapkan kebijakan baru. Langkah tersebut diperlukan agar keputusan yang diambil sesuai dengan kondisi aktual di lapangan. Hasil evaluasi Dinas Pendidikan bersama perkembangan informasi cuaca akan menjadi bahan penentu apakah pembelajaran tatap muka dapat kembali diberlakukan.
"Selain memantau cuaca, pemerintah juga mengkaji kemungkinan terjadinya perubahan kondisi secara drastis yang berpotensi memengaruhi keselamatan dan kenyamanan siswa selama mengikuti pembelajaran di sekolah,"katanya.
Sebelumnya, Plt Kepala Dinas Pendidikan Kota Palangka Raya, Jayani, mengatakan penundaan ujian menjadi salah satu opsi yang sedang dipertimbangkan. Langkah tersebut diperlukan agar siswa memiliki waktu lebih panjang untuk mengejar materi pelajaran yang tertinggal selama pembelajaran jarak jauh (PJJ).
Semula, ujian akhir semester dijadwalkan berlangsung pada 4-7 Desember 2026. Namun, jadwal itu berpeluang berubah, bahkan hingga Januari 2027, jika kondisi belum memungkinkan.
"Ada kemungkinan, kemarin juga ada wacana di Januari. Itu juga disampaikan Pak Wali. Artinya, jadwal ujian bisa mundur," kata Jayani, Selasa (27/10/2026).
Pertimbangan tersebut tidak lepas dari hasil evaluasi pelaksanaan pembelajaran daring selama kabut asap menyelimuti wilayah ibu kota Kalimantan Tengah itu. Tingkat kehadiran siswa dalam pembelajaran jarak jauh tercatat hanya berkisar 40 hingga 60 persen.
Rendahnya kehadiran tersebut berdampak pada penyampaian materi yang belum maksimal. Akibatnya, sebagian siswa berpotensi menghadapi ujian ketika pemahaman mereka terhadap pelajaran belum sepenuhnya tercapai. Jayani menegaskan, persoalan utama bukan semata-mata metode pelaksanaan ujian, melainkan kesiapan siswa setelah mengikuti pembelajaran yang terganggu kabut asap.
"Kalaupun online, kalau tetap begini, otomatis masalahnya kita mengejar materi pelajaran itu. Banyak yang tertinggal. Sebab kehadiran siswa dalam pembelajaran jarak jauh tercatat hanya berkisar 40 hingga 60 persen.," ungkapnya.




























































