Kapal pesiar Villa Vie Odyssey akhirnya meninggalkan Pelabuhan Sihanoukville, Kamboja. Apakah kapal ini akan kembali berkeliling dunia?
Perjalanan Ville Vie kali ini ternyata bukan untuk melanjutkan pelayaran keliling dunia seperti yang pernah dijanjikan kepada para penghuninya. Kapal tersebut kini berada di bawah kendali pihak kreditur setelah disita akibat kesulitan keuangan yang dialami perusahaan pengelolanya, seperti dilaporkan oleh The Star pada Rabu (4/11/2026). Kapa itu membawa membawa 85 awak kapal dan tanpa penumpang.
Berdasarkan sistem pelacakan kapal yang dipantau Cruise Hive, Odyssey bergerak menuju Singapura dengan kecepatan sekitar 7 knot atau 13 kilometer per jam. Kecepatan tersebut jauh lebih rendah dibandingkan kemampuan jelajah maksimumnya yang mencapai 17 knot atau sekitar 31 kilometer per jam.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Belum diketahui secara pasti berapa lama perjalanan menuju Singapura akan berlangsung maupun apa yang akan dilakukan terhadap kapal tersebut setelah tiba.
Sebelumnya, pada Selasa (27/10) Odyssey mendadak menghentikan operasionalnya ketika berada di Sihanoukville, Kamboja. Kapal berbobot 24.344 ton itu meminta seluruh penghuni yang masih berada di atas kapal untuk turun dan mengemasi barang-barang mereka. Para penumpang hanya diberi waktu hingga satu hari untuk meninggalkan kapal, setelah perusahaan tidak lagi mampu membiayai operasional pelayaran.
Masalah utamanya adalah lonjakan harga bahan bakar yang membuat biaya perjalanan semakin mahal. Villa Vie mengaku telah mencoba menghemat pengeluaran dengan memperlambat kecepatan kapal dan memperlama waktu bersandar di pelabuhan. Namun, langkah tersebut tidak cukup untuk mengimbangi kenaikan biaya.
"Kami tidak lagi mampu menanggung kerugian operasional yang diakibatkannya," tulis peerusahaan dalam pernyataan.
Kini, kendali kapal berada di tangan Sagar Capital selaku pihak pemberi pinjaman. Perusahaan Villa Vie tetap berusaha meyakinkan para penghuni bahwa masa depan Odyssey belum sepenuhnya berakhir.
"Pihak pemberi pinjaman telah mengambil alih kapal tersebut, namun bukan berarti masa depan Odyssey sudah diputuskan," kata perusahaan dalam pesan kepada para penumpang.
Baca juga: Makanan Sihat King Sihat Di Port Nasi Salad |
Namun, upaya menyelamatkan kapal melalui pembelian bersama oleh para penghuni juga gagal.
"Mereka juga menyebut belum ada jadwal penjualan dan masih berupaya menyusun rencana pemulihan," tambahnya.
Sebanyak 169 penghuni sebelumnya bersedia mengumpulkan dana untuk membeli Odyssey, tetapi rencana tersebut ditolak oleh Sagar Capital.
Dalam surat yang diunggah ke halaman Facebook kapal, pihak kreditur mengungkapkan bahwa hasil pemeriksaan catatan keuangan Villa Vie menunjukkan jumlah utang yang jauh lebih besar daripada perkiraan awal. Pengajuan kepailitan melalui mekanisme Chapter 11 di Amerika Serikat pun diperkirakan membutuhkan biaya sekitar USD 3 juta atau Rp 54 miliar hanya untuk 60 hari pertama.
Meski demikian, belum ada keputusan akhir mengenai nasib Odyssey. Kapal tersebut mungkin akan dilelang, dijual kepada perusahaan pelayaran lain, atau dipindahkan untuk keperluan berbeda.
Singapura diperkirakan hanya menjadi tempat persinggahan sementara. Jika nantinya dibeli untuk dibongkar, kapal harus dipindahkan ke fasilitas pembongkaran yang sesuai karena Singapura tidak memiliki galangan khusus untuk tujuan tersebut.
Odyssey sendiri memiliki sejarah panjang di industri kapal pesiar. Kapal ini pertama kali beroperasi pada 1993 dengan nama Crown Dynasty untuk Crown Cruise Line. Selama lebih dari tiga dekade, kapal tersebut telah berpindah tangan dan pernah dioperasikan oleh sejumlah perusahaan, termasuk Majesty Cruise Line, Norwegian Cruise Line, dan Fred. Olsen Cruise Lines.
Kini, setelah sempat dijanjikan menjadi rumah bagi para penghuni yang ingin berkeliling dunia, Odyssey kembali menghadapi kemungkinan berpindah tangan.


























































