Para produsen robot humanoid asal China tengah berusaha keras untuk menancapkan cakramnya di Korea Selatan. Mereka melangkah lebih jauh dari sekadar pertunjukan tari atau pajangan, merambah ke uji coba di pabrik hingga penerapan komersial. Apalagi Seoul sedang meningkatkan investasi dalam kecerdasan buatan fisik (physical artificial intelligence).
Sejumlah perusahaan robotika China antara lain UBTech Robotics yang terdaftar di bursa Hong Kong, perusahaan rintisan Anyverse Dynamics, AgiBot yang berbasis di Shanghai, serta produsen robot terkemuka Unitree Robotics, telah menunjukkan kemampuan mereka. Bahkan mereka mengumumkan berbagai proyek di Korea Selatan tahun ini.
"Generasi baru perusahaan robot China memiliki DNA global dan secara alami melirik pasar luar negeri. Korea Selatan merupakan salah satu pasar terpenting di kawasan Asia-Pasifik," ujar Ethan Qi, direktur asosiasi yang menangani bidang robotika di Counterpoint Research.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia menambahkan, minimnya ketersediaan robot humanoid buatan lokal dalam skala besar telah membuka peluang bagi para pemasok asal China.
Menurut Sean Qin, kepala divisi robot komersial untuk pasar luar negeri di UBTech, perwakilan dari Galaxy Robot Park (wahana hiburan bertema robot di Seoul) sepakat untuk membeli model U1 buatan UBTech yang tampak sangat realistis, setelah melihat debutnya di Shenzhen pada bulan Juni lalu.
Qin menjelaskan, robot yang dirancang dengan tampilan menyerupai perempuan dan memiliki tinggi 1,68 meter ini dibanderol dengan harga sekitar 170.000 yuan (dikonversikan menjadi Rp 463 jutaan) dan telah dikirim ke lokasi tersebut bulan lalu. Ia menambahkan, UBTech telah memasuki pasar Korea Selatan sejak tahun 2019 dan sejauh ini telah menjual lebih dari 10.000 unit robot kepada puluhan klien dari sektor korporat maupun pemerintah.
Melansir South China Morning Post (SCMP), Rabu (28/10/2026), pada bulan Juli, UBTech juga mengumumkan rencana untuk menguji coba robot humanoid di lini produksi suku cadang otomotif di Korea Selatan, bekerja sama dengan mitra lokal Duksan JM Robotics dan produsen suku cadang Ajin Industrial. Qin menyebutkan bahwa beberapa model robot UBTech sedang menjalani uji operasional langsung di lokasi tersebut, namun ia tidak memberikan perincian lebih lanjut.
"Sebagai pusat kekuatan manufaktur, Korea Selatan telah banyak menggunakan lengan robot, robot bergerak otonom, dan sistem konvensional lainnya," ujarnya.
"Langkah selanjutnya adalah membantu para pekerja agar lebih produktif dalam tugas-tugas yang menuntut fleksibilitas lebih tinggi. Hal ini menjadikan Korea sebagai pasar utama bagi UBTech, dan bagi robot humanoid secara lebih luas," sambungnya.
Zhang Yufeng, pendiri sekaligus CEO Anyverse Dynamics menyatakan Korea Selatan merupakan salah satu pasar luar negeri terpenting bagi perusahaan mereka. Perusahaan rintisan yang berbasis di Beijing ini menjalin kerja sama dengan jaringan kedai kopi asal Korea Selatan, Hollys, dalam ajang World Robot Conference di Beijing pada bulan Agustus lalu.
Kemitraan ini bertujuan untuk menguji coba robot yang mampu menyajikan minuman, membersihkan meja, dan menata ulang kursi. Menurut Zhang, robot-robot tersebut saat ini sedang dalam tahap uji coba operasional di sebuah kafe di Beijing.
Berdasarkan data bea cukai China, Korea Selatan menempati peringkat ketiga sebagai pasar ekspor terbesar bagi China untuk kategori 'robot bionik cerdas' selama sembilan bulan pertama tahun 2026, berada di belakang Amerika Serikat dan Jepang. Nilai ekspor ke Korea Selatan mencapai USD 19,99 juta (sekitar Rp 363 miliar lebih), atau 9,7% dari total ekspor global China yang bernilai USD 206,95 juta (setara Rp 3,7 triliun).
Secara keseluruhan, China mengekspor 16.559 unit robot ke 108 negara dan wilayah dalam kategori bea cukai tersebut. Robot tersebut termasuk yang baru diperkenalkan tahun ini dan mencakup robot berbentuk manusia (humanoid) serta robot berbentuk anjing.

















































