Kenaikan penjualan mobil listrik tak berbanding lurus dengan peningkatan pembiayaan. Sebab, banyak orang RI membeli mobil listrik secara tunai.
Catatan penjualan mobil listrik di Indonesia terus mengalami pertumbuhan. Berdasarkan data wholesales (distribusi pabrik ke dealer), penjualan mobil listrik di Indonesia sudah tembus 117.218 unit sepanjang sembilan bulan 2026 (Januari-September). Penjualan mobil listrik tumbuh sekitar 113,7 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Jika ditarik data dalam lima tahun terakhir, penjualannya sudah melebihi tahun-tahun yang lalu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kendati demikian, meningkatnya penjualan mobil listrik di dalam negeri itu rupanya tidak dinikmati perusahaan pembiayaan atau leasing. Ketua Umum Asosiasi Perusahaan Pembiayaan Indonesia (APPI) Suwandi Wiratno menyebut bahwa peningkatan penjualan kendaraan listrik itu tidak memberikan dampak signifikan terhadap penyaluran pembiayaan. Ini lantaran orang RI kebanyakan membeli mobil listrik dengan cara tunai.
"Setelah kita lakukan penelitian, ternyata tidak linear dengan kami karena satu dan lain hal, banyak penjualan di kendaraan EV. Nah, kendaraan EV rata-rata yang membeli kendaraan itu masih menggunakan dana tunainya sendiri atau cash basis," kata Suwandi dikutip CNBC Indonesia.
Selain di pasar mobil baru, fenomena serupa juga terjadi di pasar mobil bekas. Suwandi menuturkan transaksi pembelian mobil bekas dengan skema kredit juga mengalami penurunan. Padahal biasanya pasar mobil bekas turut menopang pertumbuhan perusahaan pembiayaan.
"Di roda empat, bekas juga kok kelihatannya turun? Kenapa? Kami cek ke dealer dan showroom, ternyata penjualannya juga banyak cash," jelas Suwandi.
Selain mekanisme pembayaran tunai, penurunan transaksi dengan skema pembiayaan juga menyusut lantaran ada alternatif pembiayaan lain yang bikin konsumen tergiur.
"Banyak penjualan kendaraan bekas yang biasanya dengan pola kredit melalui perusahaan pembiayaan, sekarang mereka mendapatkan pinjaman dari KUR, terus membeli kendaraan roda empat. Bukan mereka tidak dapat dari kita, tapi dapatnya dari lembaga keuangan lainnya," kata Suwandi.






















































